New Media as Cultural Technologies


 

Dalam bab ini menjabarkan mengenai media baru sebagai wujud teknologi serta kaitannya dengan budaya masyarakat umum. Media baru yang notabene digeneralisasikan sebagai wujud teknologi disangkut pautkan dengan budaya yang memiliki arti sangat luas.

Hal ini menjadikan munculnya pemikiran dualistik tentang media baru, yaitu dengan penilaian dua arah antara baik dan buruknya media baru bagi masyarakat dan kebudayaannya.

Secara kasar kita bisa menyebutkan beberapa sisi baik dan sisi buruk dari media baru yang berkenaan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Kelebihan atau sisi baiknya antara lain, semakin nyatanya kebebasan bermedia bagi masyarakat, kemudian semakin meningkatnya kualitas interaksi sosial dari yang mulanya terhalang kendala jarak dan waktu untuk melakukan komunikasi, denga teknologi media baru kendala-kendala seperti itu tidak lagi menjadi penghalang.

Namun dilain sisi, terdapat dampak negative dari munculnya berbagai media baru yang tidak bisa dibilang sedikit, antara lain munculnya ketimpangan pertumbuhan ekonomi, banyaknya pekerjaan manusia yang akhirnya digantikan oleh teknologi, masyarakat kebanjiran informasi sehingga dibuat bingung dengan informasi yang terkadang tidak sinkron antara satu dengan lainnya, kemudian dampak yang paling terasa adalah menurunnya interaksi sosial yang dilakukan secara langsung atau face to face karena merasa komunikasi dilakukan dengan media itu sudah cukup.

Namun sebenarnya, tidak hanya sebatas itu peran teknologi media baru dalam mengubah nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat. Teknologi tidak hanya mempunyai fungsi sebagai media berkomunikasi, tetapi teknologi juga dapat mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku manusia. Karena tidak hanya kebaikan dan keburukan yang dimiliki teknologi, tetapi teknologi juga mempunyai nilai-nilai, ideology, dan karakter tersendiri yang dibawanya.

Teknologi seolah mengarahkan cara pikir manusia dengan ideology yang dibawanya seperti pola hidup efisien, instan, progresivitas, fleksibel, dan ideology yang lainnya.

Namun diluar dari pembahasan itu, terdapat dua macam kategori dari teknologi media yaitu Hot dan Cool media . Kategori ini dibagi berdasarkan sejauh mana jumlah indera manusia yang dipergunakan dalam pemanfaatan sebuah media. Atau bisa dikatakan juga seberapa aktif dan pasif manusia dalam menggunakan  media tersebut. Semakin pasif audience berarti semakin Hot media itu disebut, namun sebaliknya, semakin aktif audience dalam cara menggunakan media maka semakin Cool jenis media tersebut.

Kembali ke pembahasan tentang new media as cultural technologies, dalam bab tersebut juga dijelaskan era-era yang menjadi masa perjalanan media yaitu modernisme dan post modernisme. Modernisme merupakan masa saat terdapat pengembangan medium yang bersifat pasif, dimana audience diposisikan hanya sebagai penonton dan menerima begitu saja informasi yang disuguhkan oleh media.

Sedangkan era post modernisme lebih merupakan masa ‘pemberontakan’ terhadap modernisme. Pada masa ini pengembangan media cenderung lebih aktif pada audience-nya, karena seolah menarik audience untuk berperan aktif didalamnya. Produk-produk yang dihasilkan juga terkesan lebih berdasarkan pada sisi emosional dibandingkan komersial, banyak diselingi hal-hal yang unpredictable, shocking elements, atau sesekali breaking shock.

 

Parasocial Interaction


 

Ketika jarak tidak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasi, ketika ruang tidak lagi menjadi penentu, dan ketika jasad tidak harus bertemu untuk berkomunikasi, hal ini akan menimbulkan banyak sekali manfaat atau bahkan kerugian dalam proses komunikasi.

Kali ini saya akan lebih menekankan pembahasan mengenai dampak negative dari komunikasi bermedia, diantaranya adalah  parasocial interaction atau bisa kita sebut dengan sosial yang bersifat semu.

Dalam proses komunikasi terdapat beberapa level komunikasi yaitu dengan menggunakan media tradisional, media baru. Dalam komunikasi yang menggunakan media baru menciptakan interaksi baru. Beberapa medium yang merupakan bagian dalam media baru antara lain facebook, blackberry, dan lainnya. Medium-medium baru tersebut menjadikan komunikasi bermedia seolah bagaikan komunikasi langsung face to face yang akhirnya menghilangkan rasa jauh karena jarak dan sebagainya.

Hal tersebut harusnya dikategorikan sebagai manfaat dari media baru, jika dalam takaran yang normal, namun jika sudah melebihi batas hingga menimbulkan ketergantungan bagi si pengguna yang seolah tidak bisa lepas dari media tersebut, dan sampai mengalihkan fungsi masyarakat yang sebenarnya menjadi bagian hidupnya kemudian menggantikan masyarakat pada dunia yang berada dalam media tersebut sebagai masyarakat “sebenarnya” yang baru, maka hal tersebut sudah tidak sehat dan menjadi bagian dari dampak negative dari komunikasi bermedia.

Ditambah lagi dengan munculnya banyak kasus di masyarakat yang terjadi akibat terlalu menjadikan media baru ini sebagai masyarakat baru yang lebih menarik untuk menjadi tempat bergaul dari masyarakat sosial yang sebenarnya, seperti kasus penculikan anak-anak oleh teman facebooknya, anak yang tidak lagi mau bergaul dengan teman-teman sekolah atau daerah sekitar rumahnya karena lebih memilih bermain dengan teman-temannya di internet, atau ibu-ibu yang lebih memilih bersosialisasi dengan komunitas dalam internet.


Uses of the Mass Media


 

Pendekatan uses and gratifications menekankan riset komunikasi massa pada konsumen pesan dan tidak begitu memperhatikan mengenai pesannya. Di sini khalayak diasumsikan sebagai masyarakat yang aktif dan diarahkan oleh tujuan. Khalayak dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam melaksanakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain.

Dalam teori uses and gratification ini menjelaskan bahwa dapat dibuatnya suatu kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman  kita mengenai efek media yang sekarang ini semakin mengarah ke era digital.  Dengan semakin digital-nya media saat ini semakin mempermudah bagi masyarakat yang ingin mewujudkan rasa tanggung jawabnya terhadap informasi apa yang memang diperlukan olehnya.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai contoh, salah satunya adalah dengan adanya teknologi digital seperti teknologi televisi kabel. Dengan televisi kabel masyarakat dapat memilih program-program apa yang akan ditonton dan semakin jeli dalam menentukan informasi seperti apa yang ingin didapatkannya serta tidak lagi hanya menerima suapan informasi dari media tanpa berperan aktif memilah-milah sesuai kebutuhannya.

Apalagi dengan kondisi masyarakat yang sekarang ini tidak lagi berpikir untuk bersusah payah mencari informasi, karena justru masyarakat kebanjiran informasi saat ini. Hal ini membuat masyarakat yang tidak jeli memilih informasi seakan menjadi saran empuk media dengan menyodorkan segala bentuk dan rupa informasi yang semakin membuat bingung. Karena semakin kesini informasi yang diberikan cenderung tidak lagi objektif, dikarenakan banyak factor yang mempengaruhi ketidak objektifan media dalam menyampaikan informasi seperti factor kepemilikan media, dan lain sebagainya.

 

Medium Theory


 

Seperti yang pernah disebutkan oleh McLuhan, bahwa kita sebenarnya hidup dalam ‘desa global’. Karena perkembangan teknologi komunikasi yang pesat memungkinkan kita untuk bisa berhubungan dengan setiap orang di berbagai macam penjuru dunia.

Dengan berbagai macam jenis teknologi yang ada kita dapat menyampaikan pesan serta informasi kepada orang lain, dan menerima pesan dari orang lain.

Dalam prosesnya menuju era modernisasi, media dianggap seolah hanya menjadi perpanjangan badan dari manusia dalam ruang menuju sistem syaraf. Misalnya, mesin ketik adalah perpanjangan tangan manusia, mobil adalah perpanjangan kaki manusia, radio adalah perpanjangan telingan manusia, dll.

Namun ada satu hal yang luput dari perhatian kita bahwa sebenarnya media juga merupakan pesan itu sendiri yang ingin disampaikan kepada manusia.

Misalnya, teknologi media-media percetakan merujuk pada era modernitas, dan teknologi media elektronik merujuk pada era postmodernitas. Hal ini bisa disimpulkan bahwa setiap medium mempunyai pesan yang hendak disampaikan kepada manusia.

Contoh konkretnya, teknologi komunikasi handphone. Pada awal kemunculannya, handphone menjadi suatu hal yang sangat mewah. Tidak sembarang orang yang bisa memiliki handphone karena harganya mahal. Sehingga bisa disimpulkan bahwa handphone mempunyai  pesan yang ingin disampaikan kepada manusia bahwa hanya orang-orang kaya yang mempunyai banyak uanglah yang bisa memilikinya, karena handphone adalah barang yang dianggap mewah saat itu.

Kemudian kita ambil contoh media yang lahir dan berkembang pada akhir abad 19 dan awal abad 20, surat kabar yang biasa disebut dengan Penny press. Dengan menawarkan harga yang murah seolah dia membawa pesan bahwa penny press ini merupakan media informasi yang bisa dijangkau oleh semua kalangan, baik kalangan atas, menengah bahkan kalangan bawah.

 

MEDIA CETAK


 

Online atau Tidak, Koran MEMBOSANKAN

Koran sebagai media cetak yang telah setia menemani kita sekeluarga seperti turut menghitung usia kita dengan kehadirannya setiap hari didepan pintu rumah. Bentuknya yang fleksibel tidak merepotkan jika ingin dibawa kemana-mana, bahanya yang bisa didaur ulang, bisa disimpan berhari-hari tanpa membutuhkan biaya ekstra, dan masih banyak hal lain yang membuat koran nampak menyenangkan untuk dikonsumsi setiap hari. Isu-isu menarik dari mulai dunia ekonomi hingga politik dikupas dalam harian cetak tersebut.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, koran telah tertinggal. Banyak sekali pemberontakan kecil yang tergolong radikal dilakukan oleh media cetak tersebut, namun satu hal yang terlewatkan, revolusi mengenai dirinya sendiri tidak terjamah oleh otak dari koran. Hal ini menjadikan koran sebagai media yang besar namun kondisinya sangat memprihatinkan dalam resolusi informasi. Karena disudut yang lain telah hadir dengan segala macam tawaran kepraktisannya yaitu internet.

Maraknya internet membuat sang penerbit koran meliriknya sebagai alternative dari koran cetak untuk kembali menarik pasar pemuda. Karena koran cetak dianggap ‘jadul’ sehingga kaum remaja kita merasa enggan untuk membaca koran cetak. Dengan hadirnya koran online diharapkan mampu menjadi wadah para pemuda yang haus akan berita namun masih dengan style muda, sehingga tidak dicap sebagai pemuda yang ketinggalan zaman. Sementara ini paling tidak koran online masih belum memiliki motif komersial dan konseptual, hanya memberi yang terbaik untuk pembaca.

Namun dilain sisi jika dikaji lebih dalam, koran online hanya mencari dan menyerap umpan balik yang sebenarnya semua itu hanya ilusi interaktivitas yang tidak nyata sama sekali. Seolah-olah menyediakan ruang bebas untuk memberikan komentar tentang apapun tanpa menghasilkan sedikitpun kekuasan untuk melakukan apapun.

Membaca koran online juga termasuk rumit, dan yang paling utama adalah tidak ada taste membolak balik halaman untuk menemukan berita-berita yang lain. Budaya pers cetak yang blak-blakan dan informal secara terus-menerus tersedia sehingga sering kali muncul konflik abadi, persahabatan tiba-tiba, dan permusuhan sesekali dalam koran online.

Sepertinya memang koran cetak telah tertinggal masanya, namun kesalahan utama adalah dari koran cetak sendiri seolah tidak ada keniatan sama sekali dan terkesan menolak untuk melakukan perubahan. Namun hal tersebut tidak lantas menghilangkan fungsi jurnalistik cetak, justru sebaliknya hal itu bisa membuat peran koran cetak menjadi lebih penting dan berguna dari sebelumnya. Koran cetak tidak akan memonopoli pemberitaan seperti sebelumnya, dan hal tersebut jadi membuat masyarakat tidak hanya menerima berita begitu saja sesuai yang disajikan.

Koran cetak merupakan salah satu media informasi yang tetap menolak untuk melakukan perubahan yang berarti. Investasi besar-besaran bisa saja dilakukan koran cetak dengan berbagai cara, misalnya saja dengan menggunakan tenaga kerja yang lebih muda dan berbakat dan staf yang lebih beragam, sehingga dapat memberi nuansa baru bagi koran cetak terkait.

Namun alasan yang sebenarnya, masyarakat berhenti membaca koran bukan karena banyaknya gadget dengan teknologi yang canggih dan terbaru, melainkan masyarakat memilih untuk berhenti membaca koran karena semakin hari koran menjadi semakin kurang relevan.

 

Revolusi Sistem Komunikasi


 

Jika kita simpulkan terdapat 3 masa yang bisa mencirikan perubahan era sistem komunikasi, masa Telepon, masa Televisi, kemudian masa Jaringan Komputer. Telepon pertama kali ditemukan pada tahun 1876, dilanjutkan dengan adanya televisi pertama pada tahun 1926, sampai pada komputer  elektronik yang diciptakan pada pertengahan tahun 1940-an. Perubahan demi perubahan terjadi dengan proses yang panjang sampai pada munculnya sebuah revolusi besar pada akhir 1980-an.

 

TELEPON

Sebagai era pertama yang menjadi proses revolusi telepon masih memiliki banyak kekurangan, kemampuan yang lebih rendah pada jaringan telepon untuk layanan komunikasi jarak jauh. Layanan telepon lintas atlantik muncul pertama  kali tahun 1930-an. Namun kemudian tahun 1956, transatlantic kabel telepon pertama kali mengudara dengan kapasitas hanya delapan puluh Sembilan percakapan simultan dalam wilayah Eropa dan Amerika utara. Akhir 1980-an, kapasitas pada rute utama jarak jauh meningkat tajam. Transatlantic kabel fiber optik pertama memiliki kapasitas dengan daya tampung hampir 40.000 percakapan, namun hanya mengudara tahun 1988. Pertumbuhan semakin cepat dengan kapasitas yang direfleksikan dengan tarif. Tahun 1997 telepon telah menjadi mobile. Sekarang, telepon selular merupakan invovasi baru yang paling sukses. Penyebaran telepon selular terus meningkat, tahun 1996 hampir 47% masyarakat menjadi pelanggan telepon selular sehingga memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dari setiap sudut di dunia.

 

TELEVISI

Hanya sekitar 8000 rumah diseluruh belahan dunia yang terdapat televisi pada akhir perang dunia kedua. Namun tahun 1996 meningkat drastic menjadi 840 juta atau hampir 2/3 dari jumlah rumah tangga didunia memiliki televisi. Selama kurun waktu 50 tahun teknologi dasar pada sebuah televise tidak ada yang berubah, namun terjadi revolusi oleh perkembangan satelit komunikasi pada transmisi program. Musim gugur tahun 1963 menjadi awal momentum dimana masyarakat diseluruh dunia menyaksikan suatu peristiwa politik yang berbeda dengan yang terjadi di lapangan untuk yang pertama kalinya. Tahun 1962 diluncurkan Telstar, satelit komunikasi swasta yang pertama, hal ini memungkinkan terjadinya transmisi global dari pemakaman Presiden John F. Kennedy. Tahun 1988, diluncurkanlah satelit internasional pertama sebagai saingan domestic oleh PanAmSat.  Hanya di wilayah Amerika Serikat dan beberapa negara lain terutama sejak tahun 1980-an yang memiliki jaringan televise kabel menggiring mereka benar-benar menonton apa yang menjadi pilihan mereka. Dewasa ini, pilihan semakin berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Menjelang akhir 1980-an, satelit komunikasi mulai disiarkan langsung ke sebuah piringan kecil yang menempel di rumah-rumah masyarakat, sehingga penyebaran televise multichannel menjadi semakin terjangkau. Kemudian pertengahan tahun 1990 kembali muncul perubahan revolusioner yang lain, pihak penyiaran mulai mengirimkan televisi dalam bentuk digital dan tidak lagi analog. Hal ini memberikan peluang lebih banyak terhadap sinyal-sinyal yang akan dikompres, sehingga akan jauh lebih banyak saluran yang dapat diterima, baik dari satelit, melalui kabel, atau bahkan lewat udara. Untuk selanjutkan, ada kemungkinan fasilitas tersebut akan tersedia tanpa biaya tambahan bagi pemirsa.

 

JARINGAN KOMPUTER

paling fresh dari kedua era revolusi komunikasi sebelumnya yaitu computer elektronik yang telah berkembang sangat cepat. Tahun 1943, Thomas Watson seorang pendiri IBM berpikir bahwa terdapat ruang untuk sekitar 5 komputer di pasar dunia. Setidaknya, terdapat dua perubahan penting yang telah terjadi. Pertama, daya komputasi telah tumbuh secara dramatis. Hal ini mengakibatkan computer dapat menjadi miniatur dan masyarakat seolah telah menjadi pelanggan tetap dengan daya komputasi yang tertanam dalam segala hal, mulai dari produk mainan anak-anak sampai peralatan rumah tangga. Kedua, computer semakin terhubung antara satu dengan yang lainnya. Hal ini biasa kita kenal sebagai internet. Pada dasarnya sarana penghubung computer di dunia semakin memperjelas kekuatan luarbiasa dari jaringan computer itu sendiri. Tahun 1965, Moore meramalkan bahwa kekuatan akan berlipat ganda setiap delapan belas bulan sampai dua tahun. Chip 486, standar di computer yang dibeli sekitar tahun 1994, bisa melakukan hingga 54 juta kalkulasi numeric per detik. Kemudian tahun 2006, menurut prakiraan Intel, chip akan menjadi 1000 kali lebih kuat dan memangkas biaya hingga hanya sepersepuluh dari yang sebelumnya yaitu tahun 1996. Tahun 1977, Steven Jobs dan Stephen Wozniak, dua penggemar berat computer muda, meluncurkan Apple II, membuka jalan bagi computer untuk menjadi rumah tangga yang baik. Sekarang, 40% rumah yang ada di Amerika Serikat memiliki computer. Walaupun penggunaan internet tumbuh pesat tahun 1980-an dan awal 1990-an, sebanyak dua kali lipat setiap tahun, namun transformasi sukses menjadi populer mulai tahun 1993-1994. Tahun 1994 barulah jumlah computer komersial yang terhubung ke internet lebih banyak daripada jumlah computer akademik.

 

NEW MEDIA


 

BAB I

Latar Belakang

Perkembangan teknologi sekarang ini sangat luar biasa, hal ini menjadikan dunia serasa dalam genggaman manusia. Semua terasa mudah, dan seolah tidak ada yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia dengan adanya dukungan teknologi.

Tidak sebatas  sampai disitu, kemajuan teknologi tersebut tidak hanya merubah kehidupan manusia yang semakin kesini semakin ‘beralat’ atau semakin menggantungkan diri pada alat, namun perubahan substansial juga dirasakan oleh seluruh kalangan masyarakat yang telah merasakan arti hadirnya teknologi.

Perubahan substansial tersebut berupa perubahan pola pikir atau  cara pandang serta paradigma manusia dalam memaknai setiap hal yang terjadi di dunia.

Terlebih lagi dengan munculnya teknologi media baru berupa internet. Hampir semua hal dapat dilakukan manusia dengan bantuan dari internet ini. Kita bisa mencari informasi mengenai apapun yang kita butuhkan, kapanpun, dan dimana pun hal tersebut dapat kita lakukan.

Sistem penyediaan berbagai macam fungsi dalam internet mendorong masyarakat untuk semakin mendarat pada dunia ke-praktisan. Hal ini membuat masyarakat terbiasa dengan hal yang mudah, dan enggan untuk melakukan sedikit kesusahan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Tidak pelak dengan segala kemudahan tersebut, generasi muda kita yang cenderung masih dalam fase pencarian jati diri menjadi semakin terbuai yang akhirnya sangat menggantungkan ‘hidupnya’ pada internet. Sehingga akhirnya kini menjadikan para pemuda sebagai penguasa dunia internet.

Bisa disebut demikian karena berdasarkan riset yang dilakukan oleh pihak Yahoo! Dan TNS pada tahun 2009, menunjukan bahwa anak muda menjadi range usia yang menjadi pengguna internet terbanyak. Dengan rincian penggunaan internet pada segmen penduduk usia 15-29 tahun (rentang tahun usia pemuda) mencapai 64 persen dari jumlah keseluruhan pengguna  internet. Disusul usia 20-24 tahun sebesar 42 persen, usia 25-29 tahun sebesar 28 persen, usia 30-34 tahun sebesar 16 persen, usia 35-39 tahun sebesar 13 persen, usia 40-44 tahun sebesar 12 persen, dan usia 45-50 tahun sebesar 5 persen.

Dengan kata lain, mayoritas pengguna internet adalah anak muda. Dan bisa disimpulkan bahwa konten-konten yang terdapat dalam internet juga akhirnya merujuk pada pasar yang ditujukan kepada anak muda.

Pada dasarnya memang internet menjadi gudang informasi yang cukup bisa dihandalkan. Dengan begitu anak muda yang kebutuhan informasinya masih meraba-raba dari berbagai sumber akhirnya memilih internet sebagai tempat merajuk yang utama.

Anak muda dapat mencari segala bentuk informasi, baik demi kebutuhan tugas yang diberikan oleh pengajar di instansi pendidikannya, ataupun sekedar informasi perkembangan kehidupan sosialnya dengan rekan-rekan sejawat. Mereka dengan mudah dapat mencari jawaban kebutuhannya di internet. Dengan begitu internet sebagai media baru saat ini telah mendapatkan tempat di hati para anak muda.

Konten yang disajikan dalam internet pun mencakup berbagai macam kalangan. Baik untuk anak-anak, usia yang beranjak remaja, anak muda, dan juga orang tua. Internet juga tidak hanya menjangkau masyarakat yang berada di kota saja, jangkauan dari media baru ini juga sampai pada masyarakat yang ada di wilayah pedesaan. Media baru terus melaukan pengembangan jaringan untuk meluaskan jangkauan, sampai-sampai dimunculkan slogan yang sudah sangat akrab ditelinga kita yaitu “internet masuk desa.”

Tidak hanya sebatas dalam usaha pemenuhan kebutuhan akan informasi, anak muda seolah tidak bisa melepaskan kehidupan mereka dari media baru khususnya internet karena internet sekarang ini telah menjadi tren yang mau tidak mau demi memenuhi kebutuhan sosial pergaulannya anak muda juga harus selalu update situs-situs yang menjadi perkumpulan dan ajang gaul anak-anak muda jika tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman.

Namun penggunaan internet atau media baru oleh anak muda ini bisa dikatakan hampir melebihi batas. Karena akhirnya waktu yang digunakan oleh anak muda sekarang ini lebih difokuskan kepada dunia maya. Interaksi kehidupan sosial yang terjalin didunia maya dalam media baru ini seolah sudah menjadi kehidupan kedua bahkan menggantikan posisi kehidupan realitas sosial bagi para pecandu internet. Parasocial interaction hal ini biasa dikenal orang-orang ahli komunikasi.

Hal ini menjadi salah satu penyebab terus berkembangnya media baru pada kehidupan anak muda baik dikota maupun di desa. Melihat potensi yang menggiurkan yang ditawarkan anak muda pada keberlangsungan internet, pihak pengelola media baru pun tidak akan membiarkan pangsa pasar yang menjanjikan ini kabur begitu saja. Maka diciptakanlah terus aplikasi-aplikasi yang mengikuti kebutuhan anak muda sehingga mereka akan terus menggantungkan dirinya pada internet karena merasa tidak perlu repot lagi untuk memenuhi kebutuhannya. Tinggal klik di kolom search, kebutuhan yang dicari pun bisa terpenuhi.

Tetapi tidak melulu dampak positif yang diberikan oleh media baru. Negatifnya, media baru ini telah menjadi jalur pergeseran nilai yang sangat terlihat dalam kehidupan realitas sosial kemasyarakatan. Anak muda seringkali memanfaatkan media baru ini untuk kepentingan yang bisa menjatuhkan nilai-nilai yang telah dibangun oleh generasi sebelum mereka, seperti kehidupan sosial yang telah disebutkan tadi, juga kepekaan pemuda dalam menanggapi fenomena sosial terus dikiblatkan pada dunia media baru.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Media baru

Media baru singkatnya bisa kita terjemahkan sebagai media yang terbentuk dari kegiatan interaksi antara manusia dengan computer khususnya internet. Media baru merupakan istilah yang dimaksudkan untuk melingkupi kemunculan digital, computer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi pada sekitar akhir abad ke-20.

Yang termasuk dalam media baru adalah internet beserta aplikasi-aplikasi didalamnya seperti website, blog, online social network, online forum, multimedia computer, computer games, atau aplikasi lain yang menggunakan computer sebagai medianya.

Beberapa teknologi yang dikategorikan sebagai media baru sering kali diidentikkan sebagai teknologi digital. Biasanya teknologi-teknologi tersebut mempunyai karakteristik yaitu dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, interaktif dan cenderung tidak memihak.

Sedangkan menurut Feldman dalam Flew tahun 2005, karakteristik dari media baru meliputi manipulable, yaitu media baru bisa diadaptasikan dengan berbagai kreativitas yang kita punyai, bisa kita simpan dalam jangka waktu yang lama, bisa kita sampaikan dan gunakan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan kita.

Karakteristik kedua adalah networkable, yaitu konten-konten dalam media baru dapat dibagikan atau dipertukarkan antara pengguna media baru yang satu dengan pengguna yang lain dalam jarak yang sangat jauh sekalipun.

Media baru juga mempunyai karakteristik dense, yaitu kita sebagai pengguna hanya membutuhkan ruang fisik yang relative kecil untuk proses penyimpanan data konten pada media baru. Sehingga kita dapat menyimpan data sebanyak-banyaknya dalam media baru ini.

Kapasitas pada media baru juga bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan jadi kita sebagai pengguna bisa menurunkan jumlah kapasitasnya jika memang dibutuhkan. Karakteristik ini disebut dengan compressible.

Media baru juga cenderung tidak memihak. Jadi informasi yang disuguhkan dapat menggambarkan atau mewakili realita yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Dalam media baru interactivity semakin terlihat nyata. Masyarakat dituntut untuk mampu menyeleksi pesan dari sebegitu banyak pilihan informasi yang bukan lagi dalam hitungan hari disediakan oleh media namun dalam hitungan detik media dapat memberikan banyak pilihan informasi.

Dalam pandangan kontemporer, proses dimana sumber informasi dan penerima informasi saling memberikan kontribusi dalam penciptaan makna lebih ditekankan. Karena memang beberapa hal yang fundamental dalam fungsi media telah mengalami perubahan pada era media baru ini.

Dalam media baru pesan atau informasi dibuat berdasarkan pada kemauan khalayak yang spesifik yang tidak mau lagi disama ratakan dengan yang lain. Hal ini membuat khalayak media semakin terbagi dalam kelompok yang kecil dan anonym. Semakin mereka berperan aktif dalam sirkulasi media baru semakin mereka banyak jenis pesan yang berbeda sesuai dengan kemauan dan isi otak masing-masing audien.

Audien juga semakin bisa mengontrol informasi apa yang akan diterimanya sesuai kebutuhan. Dalam ilmu komunikasi hal ini biasa disebut dengan teori uses and gratifications. Bahkan audien dapat memesan tampilan media seperti yang mereka inginkan karena dengan ditemukannya teknologi digital sehingga memungkinkan untuk memadukan antara teks, suara, gambar grafis maupun video kedalam satu jaringan multimedia.

2.2       Media baru sebagai teknologi budaya

Media baru diartikan sebagai sebuah wujud teknologi yang berkaitan erat dengan budaya kehidupan masyarakat umum. Hal tersebut juga memicu munculnya pemikiran dualistic mengenai media baru, yaitu pemikiran manusia yang memberikan penilaian dua arah yaitu antara baik dan buruknya media baru bagi masyarakat serta kebudayaan yang dimilikinya.

Semakin nyata kebebasan masyarakat dalam hal bermedia berimbas pula pada semakin meningkatnya kualitas interaksi sosial yang sebelumnya terbatasi oleh kendala jarak dan waktu berkomunikasi. Kecanggihan teknologi meminimalisir bahkan meniadakan hambatan tersebut  sehingga meningkatkan kualitas proses komunikasi yang terjalin antar sesama manusia.

Disisi lain, media baru mengubah nilai-nilai kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Teknologi tidak hanya mempunyai fungsi sebagai media atau alat berkomunikasi, tetapi teknologi berperan aktif dalam proses berpikir dan berperilaku manusia. Karena pada dasarnya, setiap teknologi itu sendiri memiliki nilai-nilai, ideology, dan karakter tersendiri yang dibawanya.

Teknologi juga melampaui era-era dimana perjalanan media dilakukan. Dari modernisme sampai masa post modernisme. Era modernisme yaitu era dimana terdapat perkembangan media yang bersifat pasif. Yaitu masyarakat yang mengkonsumsi media diposisikan hanya sebagai penonton dan hanya bisa menerima begitu saja berbagai bentuk informasi yang diberikan media.

Namun seiring dengan kemajuan teknologi, masyarakat mendapatkan peluang untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai berbagai konten media yang disuguhkan. Masa post modernisme ini juga merupakan masa dimana ‘pemberontakan’ terhadap masa modernisme karena masyarakat diajak untuk berperan aktif didalam pengembangan media. Produk-produk hasil media cenderung tidak lagi mengutaman segi komersial, namun lebih menekankan pada sisi emosional manusia. Sehingga banyak konten mengandung unsur yang unpredictable, shocking elements, atau sesekali breaking shock.

2.3 Teori media dan teori kemasyarakatan

Dalam bukunya Mc Quail mengatakan bahwa sebagian besar teori media berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan. Penjelasan yang diuraikannya juga berdasarkan pada hubungan dengan masyarakat serta kebudayaannya.

Istilah society sering dihubungkan dengan dasar materi atau kemampuan dari sumber ekonomi dan politik, sedangkan hubungan sosial adalah hubungan yang terjalin antara masyarakat pada suatu negara, komunitas, ataupun keluarga, dll. Sedangkan budaya dihubungkan dengan aspek penting kehisupan sosial lainnya, seperti praktek-praktek sosial, ekspresi simbolik, atau bahkan kebiasan seorang individu sekalipun.

Antara media, masyarakat dan budaya mempunyai hubungan yang kompleks. Rosengen berujar bahwa menyatakan setidaknya ada 4 tipe hubungan antara budaya dan masyarakat. Pertama adalah  interdependence, yaitu semua unsur tersebut saling mempengaruhi, dan media dianggap sebagai cerminan keadaan masyarakat. Kedua, idealisme yaitu media memiliki peran besar dalam penyebaran nilai-nilai maupun falsafah hidup. Ketiga, materialisme yaitu budaya ditentukan oleh factor ekonomi dan struktur sosial yang lebih dominan. Tipe ini hampir mengena dengan teori konglomerasi yaitu secara kasar bisa kita sebutkan bahwa mereka yang memiliki modal adalah mereka yang akan menguasai media. Keempat, autonomy yaitu pada kelompok dan wilayah tertentu media sebagai alat struktur sosial tidak mampu menjangkau budaya local.

BAB III

ANALISIS KASUS

3.1       Kasus

Dalam dunia sosial yang terjadi pada media baru melibatkan banyak media sosial yang saat ini menjadi ‘tempat nongkrong’-nya anak-anak muda dan berbagai masyarakat dari segala usia. Salah satu media sosial yang banyak digandrungi masyarakat Indonesia adalah Facebook. Dengan jumlah pengguna yang mencapai lebih dari 15 juta orang pada awal januari 2010 dan rentang usia 18-24 tahun menjadi mayoritas pengguna hingga mencapai sekitar 42%, facebook menjadi salah satu jejaring sosial yang seolah menjadi dunia baru anak muda. (survey eMarketer.com)

Banyak manfaat yang diberikan oleh jejaring Facebook ini kepada kita para penggunanya. Salah satunya adalah kita bisa bertemu kembali dengan teman lama yang sudah terputus komunikasinya. Berkat Facebook yang hampir menyentuh mayoritas masyarakat Indonesia memungkinkan kita mencari siapapun, dimana pun dan kapanpun kemudian kembali menjalin komunikasi.

Tetapi tidak melulu manfaat baik kita dapatkan dengan bergabung dalam situs jejaring yang mempunyai banyak pengguna ini. Karena semakin banyak pengguna semakin luas jaringan koneksi kita semakin rentan pula hal-hal negative bisa menimpa kita.

Awal tahun 2010 lalu, kita dikejutkan oleh pemberitaan miring seputar penyimpangan sejumlah remaja yang terjadi dengan penyebab utamanya adalah salah satu situs media sosial dalam media baru, Facebook (FB). Beberapa contoh kasus yang bisa kita ambil adalah sebagai berikut :

  1. Seorang remaja putri di Jawa Timur, nekat lari ke Jakarta meninggalkan orangtuanya setelah berkenalan dengan teman baru dari Tangerang melalui FB. Setelah ditemukan dan dimintai keterangan, polisi mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan perbuatan layaknya yang dilakukan pasangan suami istri.
  2. Kasus yang sama menimpa remaja A di Jawa Tengah. Setelah sering menggunakan telepon seluler untuk bermain Facebook, remaja itu menghilang entah kemana. Semakin hari semakin banyak orangtua yang menggelisahkan aktivitas putra-putrinya sepulang sekolah. Banyak diantara mereka yang tidak langsung pulang kerumah.

Mereka seringkali mampir terlebih dahulu ke warnet untuk bermain Facebook. Bahkan, pada jam-jam yang mestinya mereka belajar dalam kelas pun mereka kedapatan nongkrong di warnet apalagi kalau bukan untuk bermain Facebook.

  1. Diduga karena kenalan lewat Facebook, gadis ABG asal Surabaya menghilang di Bumi Serpong Damai (BSD). Korban merupakan keponakan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Yosef Umar Hadi, yang tinggal di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Sebelum ke Tangerang (BSD), keluarga korban sempat singgah di tempat adik ayahnya di Tanah Kusir yang juga anggota DPR, Yosef Umar Hadi,” kata Herbuningsih, bibi korban, Senin 8 Februari 2010.

Gadis bernama Marieta Nova Triani (14) itu diduga diculik kenalannya di Facebook pada Sabtu 6 Februari 2010 malam, usai menghadiri pernikahan pamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Nah di Tanah Kusir ini dia janjian ketemuan dengan kenalan di facebooknya dan diketahui oleh ibunya. Ibunya lalu menempelengnya,” kata Herbuningsih lagi.

Korban dan keluarga tiba di di kediaman pamannya di BSD, tepatnya di Cluster Alamanda Blok L 14, BSD Tangerang Selatan, Sabtu 6 Februari sore. Gadis belia yang biasa disapa Nova itu kembali telepon-teleponan dengan kenalan facebooknya yang diduga bernama Ari.

“Sampai di sini (BSD) dia telepon-teleponan terus dengan temannya itu di depan rumah. Kata sepupunya yang bernama Fredi ada tiga cowok yang menemuinya di depan rumah. Kemudian Fredi masuk ke rumah, setelah itu Nova menghilang,” cerita  Herbuningsih.

Ketika menghilang, gadis dengan ciri-ciri wajah bulat, berkulit putih, rambut lurus sebahu itu menggunakan kaus abu-abu tua dan bercelana pendek berwarna krem.
Kapolsek Serpong Ajun Komisaris Polisi Budi Hermanto mengatakan telah menerima laporan terkait menghilangnya Nova.

“Tapi, kita belum jelas apakah ini kasus penculikan atau memang anaknya yang kabur. Nanti kita akan minta keterangan kepada keluarga korban jam 5 sore,” kata Budi Hermanto.

3.2       Analisis

Berdasarkan kronologi beberapa kasus diatas kita dapat menemukan beberapa point penting menyangkut keterlibatan media baru dalam hal ini situs jejaring Facebook, terhadap pola perilaku dan kehidupan sosial kemasyarakatan remaja atau anak muda sekarang ini.

Media sosial dalam media baru sama halnya dengan media lain yang memiliki nilai, ideology dan karakteristik tersendiri. Salah satu nilai yang dibawa oleh media sosial Facebook ini adalah bahwa Facebook merupakan situs jejaring yang menjadi tongkrongan baru masyarakat khususnya anak-anak muda. Dengan banyaknya pengguna Facebook menjadikannya tren yang biasanya secara aturan tidak tertulis bagi anak muda adalah ‘harus’ diikuti. Karena pedoman anak muda yang notabene masih dalam masa pencarian jati diri adalah ‘jika tidak mengikuti tren maka dikatakan ketinggalan zaman dan tidak gaul.’

Akhirnya anak muda yang tidak mau dikatakan ‘ketinggalan zaman’ berbondong-bondong ikut bergabung dan menjadi bagian dari tren tersebut. Banyaknya pengguna Facebook menjadikan katifitas komunikasi pemuda banyak berpindah dari kehidupan realitas sosial kedalam interaksi parasosial didalamnya.

Dengan alasan berkomunikasi lewat Facebook lebih praktis dan bisa bertemu banyak orang dalam satu waktu termasuk teman-teman dekat dan teman-teman jauh sekaligus. Di Facebook pula masyarakat seringkali lebih bisa mengungkapkan perasaannya daripada saat di realitas sosial.

Akhirnya Facebook memunculkan budaya baru dalam masyarakat. Sebelumnya, masyarakat kita para pemuda lebih sering pergi nonton bioskop bersama-sama, jalan-jalan di mall bersama, atau nongkrong di café bersama sebagai aktifitas pergaulannya.

Tetapi sekarang, anak muda lebih memilih untuk berdiam diri dalam kamar, ditemani computer yang sudah terkoneksi dengan internet dan bergaul dengan teman-temannya lewat jejaring sosial termasuk Facebook.

Budaya baru lainnya yang muncul dikalangan para anak muda adalah pola perilaku sehari-harinya. Banyak anak muda yang sebelumnya memiliki jam tidur pada pukul 22.00 wib, namun setelah adanya media baru internet dan situs jejaring didalamnya jam tidur mereka molor hingga pukul 02.00 wib atau bahkan sampai 04.00-05.00wib setiap harinya.

Media baru yang seolah tidak memiliki batasan jarak dan waktu memungkinkan penggunanya memakai jasa kapanpun dan dimanapun dengan siapapun. Hal ini membuat masyarakat tidak lagi membatasi waktu aktifitas sehari-harinya. Dan secara sederhana kita bisa mengatakan bahwa media baru mengacaukan jadwal kegiatan aktifitas manusia.

Dalam media baru yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan siapapun juga memunculkan kemungkinan hal-hal negative terjadi karena adanya manipulasi data sehingga kita bisa terkelabuhi dengan siapa kita berinteraksi.

Contohnya saja, pada jejaring Facebook, kita bisa saja mencantumkan bahwa kita seorang wanita berusia 18 tahun kemudian kita mencari pria dengan usia yang sepantar untuk dijadikan seorang kekasih.

Dia bisa saja mau menjadi kekasih kita, tanpa tahu bahwa sebenarnya kita adalah seorang pria berusia 47 tahun misalnya.

Hal semacam ini yang seringkali luput dari perhatian masyarakat yang tengah asik dibuai oleh candu jejaring sosial dan interaksi parasosial.

Karena sudah merasa kecanduan dengan dunia maya pada media sosial, maka pemuda yang masih labil emosinya cenderung mudah termanifestasi dari dunia maya. Hal tersebut berdampak pada perilaku anak muda yang tidak lagi mempertimbangkan berbagai hal dalam menentukan suatu keputusan bahkan mereka terkadang sampai tidak menyadari bahwa keputusan yang diambil tersebut bisa membahayakan diri mereka sendiri seperti pada beberapa kasus diatas.

Sedangkan kaitannya beberapa kasus tersebut dengan teori kemasyarakatan, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam kasus ini tipe hubungan media baru dengan masyarakat adalah sesuai dengan tipe yang kedua, idealisme yaitu media memiliki peran besar dalam penyebaran nilai-nilai maupun falsafah hidup.

Mungkin tidak sejauh sampai penentuan falsafah hidup, tetapi paling tidak media baru dalam hal ini Facebook sangat berpengaruh dalam penyebaran nilai-nilai yang dianut anak muda sekarang ini.

3.3       Solusi

Pada dasarya solusi terbaik sekalipun yang diberikan tidak dapat berpengaruh apapun jika tidak didasari keinginan individu dalam merubah pola perilaku yang sudah tidak sehat akibat dari penggunaan media baru secara berlebihan ini.

Namun mungkin kita bisa meminimalisir dampak negative dari penggunaan media baru secara berlebihan dengan secara kontinu memberikan bekal pengetahuan dan penyadaran mengenai kegunaan luar biasa dari teknologi media baru juga potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya.

Mengontrol atau memonitor tindakan anak seperlunya tanpa membatasi keingintahuan anak untuk belajar berbagai macam hal dan memperkuat konstruksi sikapnya dalam menjalankan aktifitas sehari-harinya. Dan aktif memberikan ide-ide evaluasi konstruktif (membangun)

Memberikan ruang untuk berinteraksi sebebas-bebasnya namun sesuai batas wajar dengan semua orang secara nyata, face-to-face, dan real life, social learning, dan dinamikanya.

 

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

http://metro.vivanews.com/news/read/127738-status_facebook_nova_menikah_dengan_ari

diakses pada Minggu, 16 Januari 2011 pukul 08.21

http://www.antaramataram.com/berita/?rubrik=6&id=14291

diakses pada Senin, 17 Januari 2011 pukul 12.42

Jan A.G.M. van Dijk. 1991. The Network Society. Netherland : De netwerkmaatschappij

W. L. Rivers, J. W. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Prenada Media.