Batal ke Belanda, Gud Job…


penulis mendukung keputusan presiden membatalkan kunjungan ke Belanda. Seperti yang dijadwalkan sebelumnya kunjungan presiden dimaksudkan memenuhi undangan Ratu Belanda Beatrix. Presiden membatalkan karena bertepatan dengan adanya sidang kilat untuk memproses tuntutan kelompok separatis Republik Maluku Selatan (RMS) di pengadilan di Den Haag. Bagaimanapun juga misi Presiden ke Belanda bukan sekedar membawa nama pribadi melainkan membawa nama negara dan seluruh masyarakat yang menjadi warga negara Indonesia. Sehingga, secara psikologis kasus tersebut seolah sudah melecehkan martabat bangsa Indonesia.

Penulis setuju dengan pernyataan Bernard Bot mantan Menteri Luar Negeri Belanda, “Karena statusnya, maka akan sulit bagi Beliau untuk menjelaskan kepada media dan politisi lokal mengapa tetap mengunjungi suatu negara di mana dia menjadi subyek dari suatu tuntutan hukum. Ini akan sangat memalukan bagi dia.” Sekalipun itu merupakan pengadilan kecil, namun tetap saja stempel yang akan melekat adalah Presiden Indonesia menjadi terdakwa kasus pelanggaran HAM dan akan ditangkap. Hal tersebut benar-benar mencoreng nama bangsa Indonesia. Bagi warga yang ‘melek hukum’ hal tersebut sama sekali tidak akan menjadi masalah dengan adanya hak amunisi yang dimiliki Presiden, namun bagi masyarakat awam yang hanya mendengar seliweran berita-berita bisa saja hal ini akan menjadi bahan cibiran mereka. Apa jadinya seorang pemimpin negara menjadi ejekan saat tugasnya bertandang ke ‘bumi orang’, bukan hanya Presiden pribadi yang merasa dihina, namun seluruh warga negara Indonesia juga.

Namun, penulis menyayangkan keputusan akhir Presiden yang membatalkan kunjungan tersebut, karena terkesan mendadak dan tidak melalui pemikiran yang matang, sehingga hal ini dianggap sebagai cerminan kepanikan Indonesia menghadapi kasus tersebut. Penulis juga menganggap pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, “Eksistensi RMS di Belanda sampai sekarang ini mengesankan “dipelihara” atau setidaknya diberi angin oleh pihak Belanda,” terkesan ‘mengompori’ Presiden yang saat itu sedang bimbang memutuskan kunjungannya ke Belanda. Penulis khawatir keputusan akhir Presiden tersebut akan mengurangi kualitas hubungan bilateral yang telah terjalin yang bahkan sedang mencapai puncaknya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s