ISL vs LPI


Persepak bolaan Indonesia sedang mengalami masa yang cukup membanggakan dalam kurun satu dekade ini. Prestasi terakhir yang diraih timnas Indoneisa sebagai runner-up piala AFF Suzuki Cup menjadi salah satu alasan kuat.

Tetapi kebanggaan ini harus dinodai dengan sedikit kenyataan yang tidak  menyenangkan. PSSI, lembaga yang menangani penyeleksian timnas Indonesia telah memberikan ultimatum terhadap pemain timnas. Ultimatum ini berisi bahwa klub sepak bola Indonesia ataupun pemainnya yang dianggap membelot, dalam hal ini terlibat dengan liga selain liga dalam naungan PSSI dilarang untuk masuk dan menjadi anggota timnas Indonesia.

PSSI seolah tidak menghendaki adanya liga lain yang menjadi wadah terbesar persepak bolaan Indonesia selain ISL. Alasan sederhananya karena PSSI tidak ingin persepak bolaan Indonesia terpecah dengan adanya lebih dari satu wadah besar yang menjadi pusat dinamika sepak bola Indonesia.

Ultimatum ini diberikan karena munculnya satu liga diluar liga naungan PSSI yaitu LPI atau Liga Primer Indonesia. Berdirinya LPI ternyata cukup menarik perhatian beberapa klub sepak bola Indonesia. PSM Makasar, Persibo Bojonegoro dan Persema Malang menjadi salah satu nama yang bisa disebut dalam daftar nama klub yang dianggap membelot oleh PSSI. Mereka termasuk pemain atas nama Irfan Bachdim yang merupakan pemain timnas indoneisa yang menjadi idola pada ajang piala AFF mengundurkan diri kemudian beralih mengikuti kompetisi LPI.

Penuturan yang tidak disangka pun keluar dari pelatih Persema Timo Scheunemann, bahwa alasan Persema mengundurkan diri dari ISL adalah penentuan hasil permainan atau skor pertandingan oleh PSSI sebelum pertandingan dimulai.

Hal tersebut memicu kemarahan pihak PSSI yang merasa tersaingi oleh LPI, apalagi dengan banyak isu yang menyebutkan bahwa LPI menyuguhkan hal-hal yang lebih baik dibandingkan dengan PSSI, seperti misalnya dalam IPL mengadopsi sistem liga-liga di Eropa. Ultimatum pun dikeluarkan sebagai wujud pembuktian kekuatan.

Namun masyarakat dan berbagai pihak memiliki persepsi yang berbeda dalam melihat permasalahan itu. Akhirnya pro dan kontra muncul mewarnai diberlakukannya kebijakan tersebut. Sebagian masyarakat menganggap bahwa PSSI telah bertindak tidak adil dengan tidak memberikan peluang menjadi anggota timnas Indonesia kepada para pemain terbaik yang mengikuti kompetisi LPI.

Ada juga yang menyebutkan LPI merupakan salah satu bentuk realisasi usaha peningkatan kualitas sepak bola agar sepak bola tanah air dapat semakin maju dan berkembang.

Namun argumen lain mengatakan, LPI sebagai liga tandingan dari ISL yang dibentuk atas asas politik individu yang bermasalah dengan pihak penting dalam PSSI. Pendapat ini cukup beralasan, karena melihat tokoh yang memotori PSSI sekarang ini yaitu Nirwan Bakrie merupakan pemilik dari stasiun televisi ANTV. Sedangkan LPI sendiri digawangi oleh Arifin Panigoro yang juga seorang pengusaha nasional sekaligus politikus di Indonesia yang belakangan diketahui bahwa LPI mendapat dukungan dari Surya Paloh.

Dengan begitu jelas terlihat permainan politik yang melatar belakangi perseteruan antara kubu PSSI dan LPI. Bukti penguat yaitu kita bisa menyaksikan pertandingan yang digelar oleh ISL di ANTV, dan pertandingan LPI di Indosiar dan Metro Tv. Yang janggal disini adalah mengapa Metro Tv yang notabene khas sebagai ikon stasiun televisi berita tetapi justru menampilkan pertandingan sepak bola tidak seperti biasanya.

Dengan mudah masyarakat akan berfikir ada unsur lain yang sedang dipermainkan dalam rentetan permasalahan yang menyeret nama Irfan Bachdim yang dicoret dalam daftar nama anggota timnas Indonesia.

Perseteruan ini sampai-sampai mendapat perhatian khusus dari Menpora Andi Mallarangen yang akhirnya menghimbau agar dari pihak PSSI tidak melakukan diskriminasi dalam menentukan pemain-pemain yang menjadi anggota timnas. Hal ini tentunya demi terwujudnya kemajuan dunia persebak bolaan Indonesia yang pastinya menjadi harapan semua masyarakat Indonesia.

Himbauan dari Menpora ini seharusnya cukup untuk memberi peringatan, bahwa timnas Indonesia ini nantinya akan bermain demi nama baik seluruh bangsa Indonesia, bukan untuk kepentingan golongan maupun kepentingan politik perseorangan.

Solusi yang memungkinkan untuk menjadi alternative menyelesaikan masalah ini dan sekiranya bisa direalisasikan adalah dengan menggabungkan kedua liga besar tersebut, yaitu ISL dengan LPI dalam satu kejuaran umum yang nantinya menjadi ajang pencarian bibit unggul pemain untuk menjadi anggota timnas Indonesia. Sehingga sistem liga sepak bola Indonesia menjadi seperti sistem liga Inggris yang mempunyai Liga Primer dan Piala FA.

Hal ini menjadikan sistem sepak bola Indonesia bisa benar-benar mencari bibit unggul pemain dan tidak ada lagi kekisruhan yang terjadi akibat adanya mogok dukungan dari masyarakat kepada timnas Indonesia hanya karena pemain idolanya tidak diberi peluang menjadi anggota pemain timnas.

Tidak akan ada lagi isu yang menyebutkan bahwa PSSI berbuat arogan atau bertindak semau sendiri dalam menentukan pemain timnas Indonesia. Juga tidak aka nada pemain-pemain sepak bola luar biasa yang dimiliki Indonesia tidak dapat tampil menunjukan kemampuannya dihadapan jutaan masyarakat Indonesia.

Masyarakat juga butuh menyediakan segudang es balok untuk mendinginkan pikiran dan idealisme dari Nurdin Kholid selaku ketua PSSI yang masih bersikeras tidak mengizinkan adanya liga nasional selain dari ISL.

Sehingga LPI bisa diakui secara sah menjadi bagian dari PSSI dan dapat berpastisipasi langsung memberikan kontribusi nyata memajukan persepak bolaan Indonesia. Dan tidak ada lagi peperangan politik yang memanfaatkan ajang yang sebenarnya bisa menjadi salah satu alat pemersatu bangsa kita Indonesia.

Namun kenyataannya, sampai sekarang dari pihak LSI belum ada niat untuk menggabungkan diri dalam naungan PSSI, dan dari pihak PSSI pun masih tidak bisa menerima adanya liga yang berjalan bersama mengembangkan sepak bola di tanah air kita ini.

Walaupun begitu, dari pihak FIFA selaku badan tertinggi sepak bola dunia masih memberikan kewenangan mengenai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh PSSI sebagai badan tertinggi sepak bola di Indonesia.

Dari kesemuanya itu bisa kita tarik benang merah bahwa seharusnya PSSI bisa bersikap loyal dan terbuka dalam menerima cara-cara atau bentuk lain dukungan masyarakat terhadap persepak bolaan tanah air. Walaupun dengan adanya liga baru, tunjukan bahwa tidak hanya saat pertandingan berlangsung dan para pemain yang harus bersikap sportif tetapi para lakon dibalik layar pertandingan pun harusnya bisa bersikap sportif demi memajukan masa depan sepak bola Indonesia.

Dengan begitu masyarakat Indonesia pun akan dengan setulus hati terus mendukung tim nasional Indonesia untuk dapat bersaing di kancah internasional dengan kualitas yang memang patut untuk dibanggakan. Yang akhirnya kita sebagai masyarakat Indonesia bisa turut mengiringi kebangkitan kekuatan luar biasa para penerus bangsa dalam bermain sepak bola dengan bersama-sama menyanyikan dengan lantang ‘Garuda di Dadaku’ sebagai lagu penggugah semangat.

—***—

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s