New Media as Cultural Technologies


 

Dalam bab ini menjabarkan mengenai media baru sebagai wujud teknologi serta kaitannya dengan budaya masyarakat umum. Media baru yang notabene digeneralisasikan sebagai wujud teknologi disangkut pautkan dengan budaya yang memiliki arti sangat luas.

Hal ini menjadikan munculnya pemikiran dualistik tentang media baru, yaitu dengan penilaian dua arah antara baik dan buruknya media baru bagi masyarakat dan kebudayaannya.

Secara kasar kita bisa menyebutkan beberapa sisi baik dan sisi buruk dari media baru yang berkenaan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Kelebihan atau sisi baiknya antara lain, semakin nyatanya kebebasan bermedia bagi masyarakat, kemudian semakin meningkatnya kualitas interaksi sosial dari yang mulanya terhalang kendala jarak dan waktu untuk melakukan komunikasi, denga teknologi media baru kendala-kendala seperti itu tidak lagi menjadi penghalang.

Namun dilain sisi, terdapat dampak negative dari munculnya berbagai media baru yang tidak bisa dibilang sedikit, antara lain munculnya ketimpangan pertumbuhan ekonomi, banyaknya pekerjaan manusia yang akhirnya digantikan oleh teknologi, masyarakat kebanjiran informasi sehingga dibuat bingung dengan informasi yang terkadang tidak sinkron antara satu dengan lainnya, kemudian dampak yang paling terasa adalah menurunnya interaksi sosial yang dilakukan secara langsung atau face to face karena merasa komunikasi dilakukan dengan media itu sudah cukup.

Namun sebenarnya, tidak hanya sebatas itu peran teknologi media baru dalam mengubah nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat. Teknologi tidak hanya mempunyai fungsi sebagai media berkomunikasi, tetapi teknologi juga dapat mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku manusia. Karena tidak hanya kebaikan dan keburukan yang dimiliki teknologi, tetapi teknologi juga mempunyai nilai-nilai, ideology, dan karakter tersendiri yang dibawanya.

Teknologi seolah mengarahkan cara pikir manusia dengan ideology yang dibawanya seperti pola hidup efisien, instan, progresivitas, fleksibel, dan ideology yang lainnya.

Namun diluar dari pembahasan itu, terdapat dua macam kategori dari teknologi media yaitu Hot dan Cool media . Kategori ini dibagi berdasarkan sejauh mana jumlah indera manusia yang dipergunakan dalam pemanfaatan sebuah media. Atau bisa dikatakan juga seberapa aktif dan pasif manusia dalam menggunakan  media tersebut. Semakin pasif audience berarti semakin Hot media itu disebut, namun sebaliknya, semakin aktif audience dalam cara menggunakan media maka semakin Cool jenis media tersebut.

Kembali ke pembahasan tentang new media as cultural technologies, dalam bab tersebut juga dijelaskan era-era yang menjadi masa perjalanan media yaitu modernisme dan post modernisme. Modernisme merupakan masa saat terdapat pengembangan medium yang bersifat pasif, dimana audience diposisikan hanya sebagai penonton dan menerima begitu saja informasi yang disuguhkan oleh media.

Sedangkan era post modernisme lebih merupakan masa ‘pemberontakan’ terhadap modernisme. Pada masa ini pengembangan media cenderung lebih aktif pada audience-nya, karena seolah menarik audience untuk berperan aktif didalamnya. Produk-produk yang dihasilkan juga terkesan lebih berdasarkan pada sisi emosional dibandingkan komersial, banyak diselingi hal-hal yang unpredictable, shocking elements, atau sesekali breaking shock.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s