NEW MEDIA


 

BAB I

Latar Belakang

Perkembangan teknologi sekarang ini sangat luar biasa, hal ini menjadikan dunia serasa dalam genggaman manusia. Semua terasa mudah, dan seolah tidak ada yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia dengan adanya dukungan teknologi.

Tidak sebatas  sampai disitu, kemajuan teknologi tersebut tidak hanya merubah kehidupan manusia yang semakin kesini semakin ‘beralat’ atau semakin menggantungkan diri pada alat, namun perubahan substansial juga dirasakan oleh seluruh kalangan masyarakat yang telah merasakan arti hadirnya teknologi.

Perubahan substansial tersebut berupa perubahan pola pikir atau  cara pandang serta paradigma manusia dalam memaknai setiap hal yang terjadi di dunia.

Terlebih lagi dengan munculnya teknologi media baru berupa internet. Hampir semua hal dapat dilakukan manusia dengan bantuan dari internet ini. Kita bisa mencari informasi mengenai apapun yang kita butuhkan, kapanpun, dan dimana pun hal tersebut dapat kita lakukan.

Sistem penyediaan berbagai macam fungsi dalam internet mendorong masyarakat untuk semakin mendarat pada dunia ke-praktisan. Hal ini membuat masyarakat terbiasa dengan hal yang mudah, dan enggan untuk melakukan sedikit kesusahan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Tidak pelak dengan segala kemudahan tersebut, generasi muda kita yang cenderung masih dalam fase pencarian jati diri menjadi semakin terbuai yang akhirnya sangat menggantungkan ‘hidupnya’ pada internet. Sehingga akhirnya kini menjadikan para pemuda sebagai penguasa dunia internet.

Bisa disebut demikian karena berdasarkan riset yang dilakukan oleh pihak Yahoo! Dan TNS pada tahun 2009, menunjukan bahwa anak muda menjadi range usia yang menjadi pengguna internet terbanyak. Dengan rincian penggunaan internet pada segmen penduduk usia 15-29 tahun (rentang tahun usia pemuda) mencapai 64 persen dari jumlah keseluruhan pengguna  internet. Disusul usia 20-24 tahun sebesar 42 persen, usia 25-29 tahun sebesar 28 persen, usia 30-34 tahun sebesar 16 persen, usia 35-39 tahun sebesar 13 persen, usia 40-44 tahun sebesar 12 persen, dan usia 45-50 tahun sebesar 5 persen.

Dengan kata lain, mayoritas pengguna internet adalah anak muda. Dan bisa disimpulkan bahwa konten-konten yang terdapat dalam internet juga akhirnya merujuk pada pasar yang ditujukan kepada anak muda.

Pada dasarnya memang internet menjadi gudang informasi yang cukup bisa dihandalkan. Dengan begitu anak muda yang kebutuhan informasinya masih meraba-raba dari berbagai sumber akhirnya memilih internet sebagai tempat merajuk yang utama.

Anak muda dapat mencari segala bentuk informasi, baik demi kebutuhan tugas yang diberikan oleh pengajar di instansi pendidikannya, ataupun sekedar informasi perkembangan kehidupan sosialnya dengan rekan-rekan sejawat. Mereka dengan mudah dapat mencari jawaban kebutuhannya di internet. Dengan begitu internet sebagai media baru saat ini telah mendapatkan tempat di hati para anak muda.

Konten yang disajikan dalam internet pun mencakup berbagai macam kalangan. Baik untuk anak-anak, usia yang beranjak remaja, anak muda, dan juga orang tua. Internet juga tidak hanya menjangkau masyarakat yang berada di kota saja, jangkauan dari media baru ini juga sampai pada masyarakat yang ada di wilayah pedesaan. Media baru terus melaukan pengembangan jaringan untuk meluaskan jangkauan, sampai-sampai dimunculkan slogan yang sudah sangat akrab ditelinga kita yaitu “internet masuk desa.”

Tidak hanya sebatas dalam usaha pemenuhan kebutuhan akan informasi, anak muda seolah tidak bisa melepaskan kehidupan mereka dari media baru khususnya internet karena internet sekarang ini telah menjadi tren yang mau tidak mau demi memenuhi kebutuhan sosial pergaulannya anak muda juga harus selalu update situs-situs yang menjadi perkumpulan dan ajang gaul anak-anak muda jika tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman.

Namun penggunaan internet atau media baru oleh anak muda ini bisa dikatakan hampir melebihi batas. Karena akhirnya waktu yang digunakan oleh anak muda sekarang ini lebih difokuskan kepada dunia maya. Interaksi kehidupan sosial yang terjalin didunia maya dalam media baru ini seolah sudah menjadi kehidupan kedua bahkan menggantikan posisi kehidupan realitas sosial bagi para pecandu internet. Parasocial interaction hal ini biasa dikenal orang-orang ahli komunikasi.

Hal ini menjadi salah satu penyebab terus berkembangnya media baru pada kehidupan anak muda baik dikota maupun di desa. Melihat potensi yang menggiurkan yang ditawarkan anak muda pada keberlangsungan internet, pihak pengelola media baru pun tidak akan membiarkan pangsa pasar yang menjanjikan ini kabur begitu saja. Maka diciptakanlah terus aplikasi-aplikasi yang mengikuti kebutuhan anak muda sehingga mereka akan terus menggantungkan dirinya pada internet karena merasa tidak perlu repot lagi untuk memenuhi kebutuhannya. Tinggal klik di kolom search, kebutuhan yang dicari pun bisa terpenuhi.

Tetapi tidak melulu dampak positif yang diberikan oleh media baru. Negatifnya, media baru ini telah menjadi jalur pergeseran nilai yang sangat terlihat dalam kehidupan realitas sosial kemasyarakatan. Anak muda seringkali memanfaatkan media baru ini untuk kepentingan yang bisa menjatuhkan nilai-nilai yang telah dibangun oleh generasi sebelum mereka, seperti kehidupan sosial yang telah disebutkan tadi, juga kepekaan pemuda dalam menanggapi fenomena sosial terus dikiblatkan pada dunia media baru.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Media baru

Media baru singkatnya bisa kita terjemahkan sebagai media yang terbentuk dari kegiatan interaksi antara manusia dengan computer khususnya internet. Media baru merupakan istilah yang dimaksudkan untuk melingkupi kemunculan digital, computer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi pada sekitar akhir abad ke-20.

Yang termasuk dalam media baru adalah internet beserta aplikasi-aplikasi didalamnya seperti website, blog, online social network, online forum, multimedia computer, computer games, atau aplikasi lain yang menggunakan computer sebagai medianya.

Beberapa teknologi yang dikategorikan sebagai media baru sering kali diidentikkan sebagai teknologi digital. Biasanya teknologi-teknologi tersebut mempunyai karakteristik yaitu dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, interaktif dan cenderung tidak memihak.

Sedangkan menurut Feldman dalam Flew tahun 2005, karakteristik dari media baru meliputi manipulable, yaitu media baru bisa diadaptasikan dengan berbagai kreativitas yang kita punyai, bisa kita simpan dalam jangka waktu yang lama, bisa kita sampaikan dan gunakan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan kita.

Karakteristik kedua adalah networkable, yaitu konten-konten dalam media baru dapat dibagikan atau dipertukarkan antara pengguna media baru yang satu dengan pengguna yang lain dalam jarak yang sangat jauh sekalipun.

Media baru juga mempunyai karakteristik dense, yaitu kita sebagai pengguna hanya membutuhkan ruang fisik yang relative kecil untuk proses penyimpanan data konten pada media baru. Sehingga kita dapat menyimpan data sebanyak-banyaknya dalam media baru ini.

Kapasitas pada media baru juga bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan jadi kita sebagai pengguna bisa menurunkan jumlah kapasitasnya jika memang dibutuhkan. Karakteristik ini disebut dengan compressible.

Media baru juga cenderung tidak memihak. Jadi informasi yang disuguhkan dapat menggambarkan atau mewakili realita yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Dalam media baru interactivity semakin terlihat nyata. Masyarakat dituntut untuk mampu menyeleksi pesan dari sebegitu banyak pilihan informasi yang bukan lagi dalam hitungan hari disediakan oleh media namun dalam hitungan detik media dapat memberikan banyak pilihan informasi.

Dalam pandangan kontemporer, proses dimana sumber informasi dan penerima informasi saling memberikan kontribusi dalam penciptaan makna lebih ditekankan. Karena memang beberapa hal yang fundamental dalam fungsi media telah mengalami perubahan pada era media baru ini.

Dalam media baru pesan atau informasi dibuat berdasarkan pada kemauan khalayak yang spesifik yang tidak mau lagi disama ratakan dengan yang lain. Hal ini membuat khalayak media semakin terbagi dalam kelompok yang kecil dan anonym. Semakin mereka berperan aktif dalam sirkulasi media baru semakin mereka banyak jenis pesan yang berbeda sesuai dengan kemauan dan isi otak masing-masing audien.

Audien juga semakin bisa mengontrol informasi apa yang akan diterimanya sesuai kebutuhan. Dalam ilmu komunikasi hal ini biasa disebut dengan teori uses and gratifications. Bahkan audien dapat memesan tampilan media seperti yang mereka inginkan karena dengan ditemukannya teknologi digital sehingga memungkinkan untuk memadukan antara teks, suara, gambar grafis maupun video kedalam satu jaringan multimedia.

2.2       Media baru sebagai teknologi budaya

Media baru diartikan sebagai sebuah wujud teknologi yang berkaitan erat dengan budaya kehidupan masyarakat umum. Hal tersebut juga memicu munculnya pemikiran dualistic mengenai media baru, yaitu pemikiran manusia yang memberikan penilaian dua arah yaitu antara baik dan buruknya media baru bagi masyarakat serta kebudayaan yang dimilikinya.

Semakin nyata kebebasan masyarakat dalam hal bermedia berimbas pula pada semakin meningkatnya kualitas interaksi sosial yang sebelumnya terbatasi oleh kendala jarak dan waktu berkomunikasi. Kecanggihan teknologi meminimalisir bahkan meniadakan hambatan tersebut  sehingga meningkatkan kualitas proses komunikasi yang terjalin antar sesama manusia.

Disisi lain, media baru mengubah nilai-nilai kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Teknologi tidak hanya mempunyai fungsi sebagai media atau alat berkomunikasi, tetapi teknologi berperan aktif dalam proses berpikir dan berperilaku manusia. Karena pada dasarnya, setiap teknologi itu sendiri memiliki nilai-nilai, ideology, dan karakter tersendiri yang dibawanya.

Teknologi juga melampaui era-era dimana perjalanan media dilakukan. Dari modernisme sampai masa post modernisme. Era modernisme yaitu era dimana terdapat perkembangan media yang bersifat pasif. Yaitu masyarakat yang mengkonsumsi media diposisikan hanya sebagai penonton dan hanya bisa menerima begitu saja berbagai bentuk informasi yang diberikan media.

Namun seiring dengan kemajuan teknologi, masyarakat mendapatkan peluang untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai berbagai konten media yang disuguhkan. Masa post modernisme ini juga merupakan masa dimana ‘pemberontakan’ terhadap masa modernisme karena masyarakat diajak untuk berperan aktif didalam pengembangan media. Produk-produk hasil media cenderung tidak lagi mengutaman segi komersial, namun lebih menekankan pada sisi emosional manusia. Sehingga banyak konten mengandung unsur yang unpredictable, shocking elements, atau sesekali breaking shock.

2.3 Teori media dan teori kemasyarakatan

Dalam bukunya Mc Quail mengatakan bahwa sebagian besar teori media berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan. Penjelasan yang diuraikannya juga berdasarkan pada hubungan dengan masyarakat serta kebudayaannya.

Istilah society sering dihubungkan dengan dasar materi atau kemampuan dari sumber ekonomi dan politik, sedangkan hubungan sosial adalah hubungan yang terjalin antara masyarakat pada suatu negara, komunitas, ataupun keluarga, dll. Sedangkan budaya dihubungkan dengan aspek penting kehisupan sosial lainnya, seperti praktek-praktek sosial, ekspresi simbolik, atau bahkan kebiasan seorang individu sekalipun.

Antara media, masyarakat dan budaya mempunyai hubungan yang kompleks. Rosengen berujar bahwa menyatakan setidaknya ada 4 tipe hubungan antara budaya dan masyarakat. Pertama adalah  interdependence, yaitu semua unsur tersebut saling mempengaruhi, dan media dianggap sebagai cerminan keadaan masyarakat. Kedua, idealisme yaitu media memiliki peran besar dalam penyebaran nilai-nilai maupun falsafah hidup. Ketiga, materialisme yaitu budaya ditentukan oleh factor ekonomi dan struktur sosial yang lebih dominan. Tipe ini hampir mengena dengan teori konglomerasi yaitu secara kasar bisa kita sebutkan bahwa mereka yang memiliki modal adalah mereka yang akan menguasai media. Keempat, autonomy yaitu pada kelompok dan wilayah tertentu media sebagai alat struktur sosial tidak mampu menjangkau budaya local.

BAB III

ANALISIS KASUS

3.1       Kasus

Dalam dunia sosial yang terjadi pada media baru melibatkan banyak media sosial yang saat ini menjadi ‘tempat nongkrong’-nya anak-anak muda dan berbagai masyarakat dari segala usia. Salah satu media sosial yang banyak digandrungi masyarakat Indonesia adalah Facebook. Dengan jumlah pengguna yang mencapai lebih dari 15 juta orang pada awal januari 2010 dan rentang usia 18-24 tahun menjadi mayoritas pengguna hingga mencapai sekitar 42%, facebook menjadi salah satu jejaring sosial yang seolah menjadi dunia baru anak muda. (survey eMarketer.com)

Banyak manfaat yang diberikan oleh jejaring Facebook ini kepada kita para penggunanya. Salah satunya adalah kita bisa bertemu kembali dengan teman lama yang sudah terputus komunikasinya. Berkat Facebook yang hampir menyentuh mayoritas masyarakat Indonesia memungkinkan kita mencari siapapun, dimana pun dan kapanpun kemudian kembali menjalin komunikasi.

Tetapi tidak melulu manfaat baik kita dapatkan dengan bergabung dalam situs jejaring yang mempunyai banyak pengguna ini. Karena semakin banyak pengguna semakin luas jaringan koneksi kita semakin rentan pula hal-hal negative bisa menimpa kita.

Awal tahun 2010 lalu, kita dikejutkan oleh pemberitaan miring seputar penyimpangan sejumlah remaja yang terjadi dengan penyebab utamanya adalah salah satu situs media sosial dalam media baru, Facebook (FB). Beberapa contoh kasus yang bisa kita ambil adalah sebagai berikut :

  1. Seorang remaja putri di Jawa Timur, nekat lari ke Jakarta meninggalkan orangtuanya setelah berkenalan dengan teman baru dari Tangerang melalui FB. Setelah ditemukan dan dimintai keterangan, polisi mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan perbuatan layaknya yang dilakukan pasangan suami istri.
  2. Kasus yang sama menimpa remaja A di Jawa Tengah. Setelah sering menggunakan telepon seluler untuk bermain Facebook, remaja itu menghilang entah kemana. Semakin hari semakin banyak orangtua yang menggelisahkan aktivitas putra-putrinya sepulang sekolah. Banyak diantara mereka yang tidak langsung pulang kerumah.

Mereka seringkali mampir terlebih dahulu ke warnet untuk bermain Facebook. Bahkan, pada jam-jam yang mestinya mereka belajar dalam kelas pun mereka kedapatan nongkrong di warnet apalagi kalau bukan untuk bermain Facebook.

  1. Diduga karena kenalan lewat Facebook, gadis ABG asal Surabaya menghilang di Bumi Serpong Damai (BSD). Korban merupakan keponakan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Yosef Umar Hadi, yang tinggal di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Sebelum ke Tangerang (BSD), keluarga korban sempat singgah di tempat adik ayahnya di Tanah Kusir yang juga anggota DPR, Yosef Umar Hadi,” kata Herbuningsih, bibi korban, Senin 8 Februari 2010.

Gadis bernama Marieta Nova Triani (14) itu diduga diculik kenalannya di Facebook pada Sabtu 6 Februari 2010 malam, usai menghadiri pernikahan pamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Nah di Tanah Kusir ini dia janjian ketemuan dengan kenalan di facebooknya dan diketahui oleh ibunya. Ibunya lalu menempelengnya,” kata Herbuningsih lagi.

Korban dan keluarga tiba di di kediaman pamannya di BSD, tepatnya di Cluster Alamanda Blok L 14, BSD Tangerang Selatan, Sabtu 6 Februari sore. Gadis belia yang biasa disapa Nova itu kembali telepon-teleponan dengan kenalan facebooknya yang diduga bernama Ari.

“Sampai di sini (BSD) dia telepon-teleponan terus dengan temannya itu di depan rumah. Kata sepupunya yang bernama Fredi ada tiga cowok yang menemuinya di depan rumah. Kemudian Fredi masuk ke rumah, setelah itu Nova menghilang,” cerita  Herbuningsih.

Ketika menghilang, gadis dengan ciri-ciri wajah bulat, berkulit putih, rambut lurus sebahu itu menggunakan kaus abu-abu tua dan bercelana pendek berwarna krem.
Kapolsek Serpong Ajun Komisaris Polisi Budi Hermanto mengatakan telah menerima laporan terkait menghilangnya Nova.

“Tapi, kita belum jelas apakah ini kasus penculikan atau memang anaknya yang kabur. Nanti kita akan minta keterangan kepada keluarga korban jam 5 sore,” kata Budi Hermanto.

3.2       Analisis

Berdasarkan kronologi beberapa kasus diatas kita dapat menemukan beberapa point penting menyangkut keterlibatan media baru dalam hal ini situs jejaring Facebook, terhadap pola perilaku dan kehidupan sosial kemasyarakatan remaja atau anak muda sekarang ini.

Media sosial dalam media baru sama halnya dengan media lain yang memiliki nilai, ideology dan karakteristik tersendiri. Salah satu nilai yang dibawa oleh media sosial Facebook ini adalah bahwa Facebook merupakan situs jejaring yang menjadi tongkrongan baru masyarakat khususnya anak-anak muda. Dengan banyaknya pengguna Facebook menjadikannya tren yang biasanya secara aturan tidak tertulis bagi anak muda adalah ‘harus’ diikuti. Karena pedoman anak muda yang notabene masih dalam masa pencarian jati diri adalah ‘jika tidak mengikuti tren maka dikatakan ketinggalan zaman dan tidak gaul.’

Akhirnya anak muda yang tidak mau dikatakan ‘ketinggalan zaman’ berbondong-bondong ikut bergabung dan menjadi bagian dari tren tersebut. Banyaknya pengguna Facebook menjadikan katifitas komunikasi pemuda banyak berpindah dari kehidupan realitas sosial kedalam interaksi parasosial didalamnya.

Dengan alasan berkomunikasi lewat Facebook lebih praktis dan bisa bertemu banyak orang dalam satu waktu termasuk teman-teman dekat dan teman-teman jauh sekaligus. Di Facebook pula masyarakat seringkali lebih bisa mengungkapkan perasaannya daripada saat di realitas sosial.

Akhirnya Facebook memunculkan budaya baru dalam masyarakat. Sebelumnya, masyarakat kita para pemuda lebih sering pergi nonton bioskop bersama-sama, jalan-jalan di mall bersama, atau nongkrong di café bersama sebagai aktifitas pergaulannya.

Tetapi sekarang, anak muda lebih memilih untuk berdiam diri dalam kamar, ditemani computer yang sudah terkoneksi dengan internet dan bergaul dengan teman-temannya lewat jejaring sosial termasuk Facebook.

Budaya baru lainnya yang muncul dikalangan para anak muda adalah pola perilaku sehari-harinya. Banyak anak muda yang sebelumnya memiliki jam tidur pada pukul 22.00 wib, namun setelah adanya media baru internet dan situs jejaring didalamnya jam tidur mereka molor hingga pukul 02.00 wib atau bahkan sampai 04.00-05.00wib setiap harinya.

Media baru yang seolah tidak memiliki batasan jarak dan waktu memungkinkan penggunanya memakai jasa kapanpun dan dimanapun dengan siapapun. Hal ini membuat masyarakat tidak lagi membatasi waktu aktifitas sehari-harinya. Dan secara sederhana kita bisa mengatakan bahwa media baru mengacaukan jadwal kegiatan aktifitas manusia.

Dalam media baru yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan siapapun juga memunculkan kemungkinan hal-hal negative terjadi karena adanya manipulasi data sehingga kita bisa terkelabuhi dengan siapa kita berinteraksi.

Contohnya saja, pada jejaring Facebook, kita bisa saja mencantumkan bahwa kita seorang wanita berusia 18 tahun kemudian kita mencari pria dengan usia yang sepantar untuk dijadikan seorang kekasih.

Dia bisa saja mau menjadi kekasih kita, tanpa tahu bahwa sebenarnya kita adalah seorang pria berusia 47 tahun misalnya.

Hal semacam ini yang seringkali luput dari perhatian masyarakat yang tengah asik dibuai oleh candu jejaring sosial dan interaksi parasosial.

Karena sudah merasa kecanduan dengan dunia maya pada media sosial, maka pemuda yang masih labil emosinya cenderung mudah termanifestasi dari dunia maya. Hal tersebut berdampak pada perilaku anak muda yang tidak lagi mempertimbangkan berbagai hal dalam menentukan suatu keputusan bahkan mereka terkadang sampai tidak menyadari bahwa keputusan yang diambil tersebut bisa membahayakan diri mereka sendiri seperti pada beberapa kasus diatas.

Sedangkan kaitannya beberapa kasus tersebut dengan teori kemasyarakatan, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam kasus ini tipe hubungan media baru dengan masyarakat adalah sesuai dengan tipe yang kedua, idealisme yaitu media memiliki peran besar dalam penyebaran nilai-nilai maupun falsafah hidup.

Mungkin tidak sejauh sampai penentuan falsafah hidup, tetapi paling tidak media baru dalam hal ini Facebook sangat berpengaruh dalam penyebaran nilai-nilai yang dianut anak muda sekarang ini.

3.3       Solusi

Pada dasarya solusi terbaik sekalipun yang diberikan tidak dapat berpengaruh apapun jika tidak didasari keinginan individu dalam merubah pola perilaku yang sudah tidak sehat akibat dari penggunaan media baru secara berlebihan ini.

Namun mungkin kita bisa meminimalisir dampak negative dari penggunaan media baru secara berlebihan dengan secara kontinu memberikan bekal pengetahuan dan penyadaran mengenai kegunaan luar biasa dari teknologi media baru juga potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya.

Mengontrol atau memonitor tindakan anak seperlunya tanpa membatasi keingintahuan anak untuk belajar berbagai macam hal dan memperkuat konstruksi sikapnya dalam menjalankan aktifitas sehari-harinya. Dan aktif memberikan ide-ide evaluasi konstruktif (membangun)

Memberikan ruang untuk berinteraksi sebebas-bebasnya namun sesuai batas wajar dengan semua orang secara nyata, face-to-face, dan real life, social learning, dan dinamikanya.

 

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

http://metro.vivanews.com/news/read/127738-status_facebook_nova_menikah_dengan_ari

diakses pada Minggu, 16 Januari 2011 pukul 08.21

http://www.antaramataram.com/berita/?rubrik=6&id=14291

diakses pada Senin, 17 Januari 2011 pukul 12.42

Jan A.G.M. van Dijk. 1991. The Network Society. Netherland : De netwerkmaatschappij

W. L. Rivers, J. W. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Prenada Media.

One response to “NEW MEDIA

  1. Pingback: Mamak dan New Media « mozaiklig

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s