Resensi ENTROK


Kesan pertama saat membaca beberapa halaman awal pada novel ini adalah merasa bahwa si penulis mempunyai ‘sesuatu’ yang berbeda. Dia mampu menyihir pembaca untuk mengikuti emosi yang  ingin disampaikan penulis.

Hal tersebut dikuatkan dengan narasi cerita yang dibuat penulis berbeda dengan novel lain. Dia meletakkan dua sisi manusia yang berbeda karakter, pandangan dan pola pikir terhadap kehidupan untuk menjadi narator cerita dalam novel. Sisi tersebut tetap menjadi kelebihan karena penulis konsekuen menggambarkan dua karakter yang bertolakbelakang. Marni yang mewakili karakter masyarakat desa dengan kepolosan, keberanian dan nekadnya serta banyak menggunakan bahasa jawa, dan Rahayu mewakili masyarakat yang berpendidikan dengan tutur kata yang halus namun kritis dan tidak banyak berbahasa jawa. Namun penulis tetap menyiratkan bahwa keduanya mempunyai kesamaan yaitu merupakan korban dari pemimpin yang berkuasa saat itu.

Penulis menempatkan cerita akhir novel pada awal cerita juga merupakan taktik jitu yang seolah tidak memberikan pilihan bagi pembaca selain melanjutkan dan menamatkan novel tersebut.

Isi cerita novel tersebut juga sangat mewakili peristiwa yang terjadi sebenarnya di masyarakat Indonesia pada masa-masa itu. Ditambah dengan penyertaan rentang tahun pada sub judul, membuat novel ini seolah menjadi saksi kehidupan dalam tahun yang disebutkan.

Namun disamping itu, terdapat beberapa hal yang dianggap kurang dalam novel ini. Dalam hal bahasa, saya pribadi menganggap bahwa penulis terlalu dominan menyajikan cerita dengan latar belakang suatu suku, Jawa. Mungkin karena penulis sendiri yang notabene berasal dari suku jawa hingga merasa mempunyai kebanggaan tersendiri dengan mengangkat kebudayaan daerah jawa. Namun hal ini justru membuat sandungan kecil bagi pembaca dalam memahami isi cerita. Karena dalam novel ini banyak sekali kalimat-kalimat yang menggunakan bahasa jawa. Awalnya saya mengira bahwa arti kata-kata asing (bahasa jawa) yang disediakan dibagian bawah halaman akan membantu, tetapi ternyata terdapat sebagian kata-kata yang berbahasa jawa tetapi tidak terdapat artinya di kolom arti bagian bawah halaman tersebut. Hal ini agak sedikit menyulitkan pembaca.

Kemudian jika diperhatikan lebih seksama, terdapat beberapa kalimat yang sering kali diulang. Seperti bagian “Nduk, Rahayu! Ibumu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak menipu orang. […].” (hlm. 57) Kata-kata tersebut diulang seperti di halaman 71 dan halaman 73 dan mungkin halaman lain yang saya luput. Mungkin tujuannya untuk mempertegas dan menguatkan karakter, tetapi hal ini cukup mengganggu.

Kemudian saya merasa pembaca juga dibuat bingung untuk menentukan bahwa sebenarnya aspek apa yang menjadi fokus novel ini. Karena banyaknya aspek yang disajikan didalamnya. Tetapi penulis menyusunnya dengan rapi hingga aspek yang banyak meliputi gender dengan lebih mengutamakan sisi perempuan (feminis), aspek sosial kemasyarakatan, politik, agama, dan aspek profesi pekerjaan menjadi kesatuan cerita yang menarik.

Dalam hal judul, isi novel ini rasanya kurang tergambarkan oleh judulnya. Entrok, merupakan judul tunggal novel ini. Tetapi isi cerita didalamnya kurang banyak membahas mengenai segala hal yang berhubungan dengan entrok. Justru yang banyak diangkat adalah aspek-aspek politik, feminisme, dan yang lainnya. Pada bagian awal novel memang terasa kental bab entrok-nya, tetapi dua per tiga bagian novel di bab-bab akhir sama sekali tidak menyentuh mengenai entrok tersebut. Hanya tersisip satu kalimat yang kembali menyinggung entrok yaitu pada bab keenam dengan sub judul “Kembang Setelon (1985-1989)” pada halaman 204. “Seandainya aku memakai entrok sejak awal, pasti saat ini susuku masih kencang dan montok.”

Tetapi mungkin justru itulah makna dibalik desain cover dari novel ini yang memvisualisasikan bagian belakang seseorang yang sedang menggunakan entrok, yaitu penulis ingin menguak sisi lain (belakang) dari sebuah entrok. Desain yang cukup unik dalam pengambilan sudut gambarnya. Seolah tidak ingin disebut hanya mengikuti ‘pasar’ yang sedang ‘menggandrungi’ hal-hal berbau vulgar. Cover novel ini menjadi terkesan jauh dari pornografi.

 

—***—

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s