PUBLIC RELATION KONTEMPORER


THE GREAT OF

MARKETING COMMUNICATION ORCHESTRA

M

arketing Communication Orchestra, buku yang memiliki ketebalan hingga sekitar 260 halaman ini merupakan hasil tulisan dari Bpk. Hifni Alifahmi memuat mengenai sisi lain dari dunia harmonisasi iklan, promosi, dan marketing public relation dengan menggunakan analogi music orchestra dalam pembahasannya. Berikut kami coba untuk sedikit menguraikan sepintas isi dari buku tersebut.

Pada bab awal buku ini membahas mengenai Spirit Komunikasi Pemasaran yang didalamnya terdapat beberapa sub bab.

Pertama kreasi orchestra komunikasi pemasaran yang intinya dalam sub bab ini menceritakan kiat-kiat untuk meracik berbagai teknik promosi, seperti iklan, event, public relation, internet, sampling atau kegiatan below the line, brand activation, dan branded entertaintment (built-in branding) agar tercipta suatu komunikasi pemasaran yang sarat akan kreativitasan.

Sub bab yang  kedua yaitu membahas mengenai komunikasi pemasaran merek pemimpin pasar yang didalamnya terdapat beberapa ciri gaya baru dari integrated marketing communication/IMC antara lain melihat khalayak sasaran kampanye bukan hanya sebagai konsumen, melainkan meluas keberagam pihak terkait (stakeholders); kemudian melakukan integrasi multifungsi tau departemen dalam organisasi (ex. Membentuk komite IMC); selanjutnya yaitu mengombinasikan sisi social dan komersial melalui pemasaran berbasis misi; dan membangun konsistensi citra merek produk agar secara strategis sejalan dengan reputasi korporat; serta bermitra dengan konsultan komunikasi terpadu, bukan hanya para spesialis dan eksekutor kreative. Kesemua cirri tadi akhirnya mulai menggeser gaya lama dari IMC yang hanya melihat iklan dan promosi sebagai titik sentral. Kemudian dalam sub bab ini juga menyebutkan bahwa pemuka pasar Indonesia melakukan integrasi dan sinergi tujuh hal, yakni antara usaha-usaha membangun karakter merek (branding), periklanan, kehumasan/PR, event marketing, publikasi, sampai promosi penjualan, dipadukan dengan dukungan kuat dari para pemimpin yang visioner sebagai titik sentral penebar inspirasi. Disini juga menyebutkan bahwa dalam kampanye empat merek itu terdapat delapan rahasia sukses 8C, yaitu concept, creativity, credibility, consistency, competency, corporate network, customer focus, dan cultural context.

Ketiga, membahas mengenai kiat komunikasi pemasaran event. Dalam integrasi komunikasi pendekatan IMC mengangkat event menjadi ajang promosi produk atau perusahaan, bahkan reputasi bangsa. Disini juga dibahas mengenai model perencanan kampanye terpadu yang terbagi menjadi beberapa tahap. Pertama adalah menganalisis situasi, kedua adalah merumuskan sasaran yang hendak dicapai, ketiga adalah proses segmentasi berupa upaya memilah-milah pasar yang heterogen menjadi lebih homogen dan memilih khalayak yang akan dijadikan target. Keempat yaitu berupa penentuan oposisi dan mengemas pesan berslogan, positioning statement, keywords, hingga tema pesan agar memudahkan penulis naskah (copy writer) merancang pesan iklan, siaran pers, sambutan, wawncara, sampai isi brosur. Kelima adalah memilih metode atau teknik-teknik IMC dan medianya. Yang selanjutnya adalah menyusun anggaran dan implementasi program. Dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi, mengukur kinerja dan pengendalian melalui tindakan perbaikan atau putar haluan, jika terjadi penyimpangan dari sasaran semula.

Berikutnya yaitu yang keempat kompas baru komunikasi pemasaran. Dalam bab ini menceritakan tentang perayaan ulang tahun kompas ke-40 diisi dengan kampanye perubahan desain dan isi kepada pembaca lama, sekaligus membidik segmen pembaca baru dengan usia lebih muda. Setahun kemudian kompas memperkuat diri sebagai merek korporat (corporate brand) melalui tampilan logo baru Kompas Cyber Media (KCM).

Dalam sub bab kelima berisikan panduan delapan tahap perencanaan komunikasi pemasaran, yaitu pertama mengenai review rencana pemasaran, kedua adalah analisis situasi seputar program promosi, ketiga yaitu analisis proses komunikasi meliputi empat factor SMCR (sender, message, channel, receiver) serta menetapkan tujuan dan sasaran komunikasi, keempat menetapkan anggaran tentative untuk beragabm program komunikasi pemasaran, terutama enam komponen yaitu iklan, pemasaran langsung, pemasaran interaktif, promosi penjualan, public relation atau publisitas, dan penjualan personal, kelima menetapkan sasaran dan strategi untuk setiap komponen komunikasi pemasaran yang digunakan, seperti iklan, promosi penjualan, publisitas, keenam menyiapkan strategi pesan dan media, ketujuh yaitu proses integrasi untuk menciptakan harmonisasi implementasi strategi komunikasi pemasaran, terakhir melakukan pemantauan, evaluasi, dan pengendalian program komunikasi pemasaran hingga jenjang operasional.

Buku tersebut memang mempunyai cirri khas yaitu berupaya melakukan harmonisasi rencana, implementasi, hingga evaluasi

Bab kedua membahas mengenai Spirit Marketing Public Relation yang berisikan tentang 6 sub bab.

Pertama yaitu mengenai spirit marketing PR yang didalamnya membahas tahapan perkembangan konsep pemasaran kontemporer atau terkini, terutama setengah abad terakhir era 1950-an sampai era 2000-an. Kemudian terdapat segitiga emas strategic marketing PR memperlihatkanketerkaitan tiga disiplin ilmu dan profesi : strategis atau korporat, pemasaran, dan kehumasan. Irisan ketiganya menghasilkan Humas pemasaran strategis (strategic marketing PR). Disini juga menyebutkan fungsi utama Marketing PR yaitu komunikasi atas informasi yang kkredibel, sponsorship, serta memperlihatkan kepedulian yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Juga berisikan tentang Lima model kolaborasi antara bidang pemasaran dan kehumasan. Pertama, separate but equal function; pemasaran dan kehumasan sebagai bidang yang terpisah namun masing-masing menjalankan fungsi secara sederajat. Kedua, equal but overlapping function; pemasaran dan kehumasan menjalankan fungsi masing-masing secara setara dan terdapat titik persinggungan dan koordinasi fungsi keduanya, yakni sama-sama membangun citra dan publikasi produk. Ketiga, marketing as the dominant function; yaitu pemasaran merupakan korporat lebih dominan dan mengoordinasi fungsi kehumasan korporat dalam memperkuat citra perusahaan. Keempat, public relation as the dominant function; yaitu kehumasan justru lebih dominan dan mengoordinasi fungsi pemasaran korporat dan produk. Kelima, marketing and public relation as the same function; pemasaran dan kehumasan melakukan fungsi bersama, yakni berkomunikasi dengan public dan pasar.

Sub bab kedua yaitu membahas mengenai hal mematahkan mitos seputar PR. Salah satu masalah dalam dunia public relation adalah meluruskan persepsi yang salah mengenai PR itu sendiri. Salah satu tujuan PR Week yaitu untuk mengangkat citra dan profesi PR agar tidak dipersepsikan sekedar sebagai pelaksana taktis dan operasional, namun berfungsi strategis dan menjadi bagian integral dari pemimpin organisasi atau top management. Ternyata banyak sekali anggapan salah mengenai apa itu PR yang sebenarnya. Misalnya saja masyarakat memberikan mitos-mitos yang kurang menguntungkan bagi PR. Contoh mitos yang disebutkan oleh masyarakat adalah PR identik dengan wanita cantik dan popular, PR hanya mengurusi masalah kliping dan mengatur protokoler, PR merupakan juru bantah, PR bertugas sebagai pemadam kebakaran, PR merupakan orang buangan, dan lain sebagainya. Mitos-mitos tidak sedap, inilah yang menjadi tugas para PR untuk diluruskan. Untuk menanggulanginya, ada empat langkah yang bisa ditempuh untuk mengenalkan dan menanamkan persepsi yang benar mengenai PR sekaligus juga menembus empat lapis perbaikan reputasi profesi PR, yaitu merek/reputasi personal, reputasi institusi, reputasi industry PR, dan membangun citra/reputasi bangsa. Pertama, mulai dari pribadi, insane PR perlu membangun merek atau reputasi personal untuk menghapus kesan kerja PR hanya hura-hura dan seremonial. Kedua, mengharumkan citra dan reputasi institusi/prusahaan (corporate reputation). Ketiga, menjaga reputasi industry PR (industrial reputation) yang langsung bersinggungan dengan profesi PR. Terakhir, agar insan PR bisa berperan membangun citra/reputasi bangsa (country reputation).

Sub bab ketiga membahas tentang sinergi corporate PR dan marketing PR. Disini membahas lingkaran strategis marketing PR. Titik persinggungan yang membangun marketing PR adalah tiga komponen akademisi atau praktisi komunikasi, pemasaran, dan strategi. Gabungan dari pemasaran dan kehumasan memunculkan marketing PR pada jenjang operasional dengan beragam teknik dan taktiknya. Namun pada jenjang strategis, perpaduan kehumasan dan pemasaran menghasilkan humas pemasaran strategis (strategic marketing PR atau SMPR). Marketing PR umumnya bermain dilevel unit bisnis strategis (strategic business unit/SBU) atau menangani aspek fungsional atau operasional suatu divisi atau departemen perusahan. Fungsi SMPR adalah menyelaraskan, mengupayakan integrasi dan sinkronisasi antara tujuan CPR yang membangun citra perusahaan (corporate reputation) dengan tujuan MPR yang mengenalkan, membentuk persepsi, mendorong preferensi, hingga menjaga loyalitas konsumen terhadap suatu merek/reputasi produk (brand image/reputation). Alat ukur sukses SMPR adalah jika berhasil memadukan atau memanfaatkan nama besar korporasi untuk mendukung sukses pemasaran produk.

Keempat, membahas mengenai pemasaran bernilai berita. Inti dari pembahasan disini adalah optimalisasi aktivitas PR untuk mendukung pemasaran produk atau sebaliknya, program pemasaran dengan muatan atau sentuhan PR yang simpatik. Fenomena marketing PR ini juga terlihat dalam wujud gaya advertorial, publitising, event marketing, PR dan promosi atau pemasaran sekaligus menjadi sarana untuk mempererat hubungan personal dengan konsumen. Secara singkat bisa disebutkan bahwa gaya pemasaran millennium baru ini menghendaki kolaborasi insane pemasara, PR, dan jurnalistik sekaligus. Untuk menjadikan pemasaran menjadi bernilai berita tinggi agar diburu wartawan dan muncul dalam liputan media massa perlu memperhatikan setidaknya 15 aspek berikut : 1. Human interest; 2. Proximity; 3. Name makes news; 4. Novelty; 5. Conflict; 6. Sensual; 7. Factual; 8. Continuity; 9. Bencana alam; 10. Keanehan; 11. Extra ordinary; 12. Humor; 13. Perjuangan hidup-mati; 14. Success story; 15. Mengguncang emosi.

Kelima, membahas tentang kolaborasi pemasaran dan PR. Perubahan lansekap bisnis itu semakin menguatkan peran PR dibanding periklanan massal yang mulai memudar. PR adalah elemen terpenting dalam kampanye merek. Terdapat tiga strategi promosi konvensional, yaitu push strategy (mendorong), pull strategy (menarik), dan pass strategy (menembus).

Keenam yaitu membahas mengenai strategi kreasi berita pemasaran. Untuk mendapatkan liputan berita yang positif dan memadai di media massa, kita perlu memahami posisi daya tarik (interest) produk dikalangan konsumen dan nilai berita (news value) di mata insane media. Produk dengan nilai berita tinggi bagi media dan daya tarik tinggi bagi konsumen cukup leluasa untuk melakukan beragam kampanye dengan peluang untuk memperoleh publikasi luas dari media massa. Akan tetapi untuk produk dengan nilai berita tinggi namun daya tarik rendah di kalangan konsumen, perlu berupaya keras untuk memunculkan berita baru tentang produk agar memperoleh liputan berita media. Bagi produk dengan nilai berita rendah namun daya tarik tinggi bagi konsumen, maka langkah yang bisa dilakukan adalah memperkuat strategi sponsorship untuk memperkuat citra produk dan mendapatkan liputan media. Sedangkan untuk produk dengan nilai berita dan daya tarik rendah, strategi yang bisa diterapkan adalah mendompleng popularitas program, event, atau figure (borrowed, interest strategy).

Bab ketiga membahas mengenai Komunikasi Pemasaran Reputasi Korporat dengan 6 sub bab didalamnya.

Pertama, membahas mengenai mengibarkan reputasi korporat. Dalam bab ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa slogan bukanlah sekedar permainan kata-kata, melainkan menghunjam dari hal-hal yang mendasar sebagai wujud operasionalisasi visi, misi, nilai-nilai budaya, dan strategi perusahaan. Dari reputasi yang terbentuk, ada empat sisi reputasi korporat yang perlu ditangani, yaitu credibility (kredibilitas dimata investor), trustworthiness (terpercaya dalam pandangan karyawan), reability (keteranddalan dimata konsumen), dan responsibility (tanggungjawab social). Jika reputasi perusahaan/korporat bagus, maka akan berdampak positif terhadap hal-hal berikut dalam bentuk : 1. Penjualan meningkat; 2. Rasa aman kepada karyawan berbakat; 3. Memperkuat keyakinan para investor; 4. Menciptakan pertumbuhan bisnis; 5. Meraih kepemimpinan pasar; 6. Membangun loyalitas pihak terkait (stakeholders).

Kedua, membahas tentang pemasaran bartabur bintang. Yaitu membahas bahwa gaya pemasaran dengan titik berat membangun reputasi perusahaan atau produk, kini semakin marak diterapkan.

Ketiga, melejitkan komet astra. Dalam model komunikasi merek korporat menceritakan bahwa pemasaran merek produk (brand) tentu berbeda dengan memasarkan perusahaan sebagai merek korporat (corporate brand). Merek korporat lebih dari sekedar nama, logo, atau tampilan visual perusahaan dan sejarahnya, filosofi, budaya, reputasi, strategi, dan personal didalamnya. Ada tiga prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan strategi komunikasi merek korporat untuk kalangan internal dan eksternal, yaitu konsistensi, keunikan, dan pesan yang focus.

Keempat, publitising, iklan bernilai berita. “it’s not creative unless it sells”. Iklan yang lebih dari luar biasa adalah iklan yang bernilai kreatif, menjual, sekaligus mempunyai nilai berita (news value). Agar iklan dapat memperoleh liputan berita yang positif, iklan tersebut harus memenuhi unsur-unsur nilai berita dan tidak melanggar etika. Selain kreativitas iklan yang menjadi liputan berita media, beberapa iklan atau program promosi bisa menjadi buah bibir atau perbincangan masyarakat melalui penyebaran berantai (word of mouth/WOM).

Kelima, produk pengerek citra korporat. Pelajaran berharga mengenai peran penting pemasaran strategic dan bagaimana seharusnya kebijakan public berpihak kepada kemaslahatan masyarakat secara makro.

Keenam, tindak lanjut pemasaran getok tular (WOM). Prinsip utama WOM sebagai berikut : 1. Harus memiliki produk atau jasa yang bagus agar bisa menjadi bahan cerita atau berita positif; 2. Pelayanan yang prima; 3. Prinsip 3:33, artinya dari 3 orang yang menyebar cerita positif, ada 33 orang lain menyebar berita negative; 4. Berusaha melampaui harapan konsumen, jangan hanya sebatas mereka puas tetapi harus lebih dari puas. Disamping itu ada 5 prinsip lain yang juga tidak kalah penting yaitu dengarkan apa yang dikatakan karyawan, beri penghargaan pada karyawan yang menyebarkan berita positif, tunjukkanlah keppada konsumen bahwa kita benar-benar ingin tahu keluhan mereka, binalah konsumen  yang loyal untuk menjadi mascot andalan untuk penyebaran secara positif, serta tunjukan komitmen dan teladan dari atasan.

Bab keempat yaitu meliputi Komunikasi Pemasaran Produk dan Jasa yang didalamnya juga terdapat 6 sub bab, sebagai berikut :

Pertama, fenomena pemasaran Avanza-Xenia. Contoh yang diambil pada bab ini yaitu Pemasaran mobil Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia pada awal 2004. Kejadian langka karena kolaborasi (co-branding) antara Toyota Astra Motor (TAM) dan Astra Daihatsu Motor (ADM) yang keduanya dibawah satu atap Astra International ini memang menjadi fenomena baru di dunia pemasaran otomotif Indonesia.

Kedua, gaya Lifebuoy berbagi sehat. Beberapa tahun terkhir ini kita menyaksikan pergeseran warna promosi yang digelar para pemasar. Gaya promosi simpatik yang mengundang konsumen untuk terlibat dalam program kepedulian mulai diminati produsen, walaupun gebyar promosi dengan jor-joran hadiah masih sering bermunculan. “bersih pangkal sehat, sehat pangkal Lifebuoy”, mengulas kampanye LBS sebagai program untuk berbagi citra dan memperlihatkan kepedulian social perusahaan.

Ketiga, promosi dengan iming-iming hadiah. Saat pertumbuhan penjualan produk melamban, apalagi jika mulai menurun, strategi menawarkan diskon atau iming-iming hadiah sampai batas tertentu bisa mendorong konsumen untuk membeli atau mencoba. Akan tetapi, diskon dan hadiah yang diobral secara terus-menerus akan merusak citra dan bisa mengikis perolehan laba, mengingat harga bahan baku dan komponen lain cenderung naik.

Keempat, “Rinso ayo main” melawan arus. Istilah perhelatan atau ajang pemasaran pernah digunakan sebagai padanan event marketing. Kini, sebutan yang serupa lebih popular dengan jargon brand activation, sebuah program yang berupaya mengenalkan dan menghadirkan merek produk lebih dekat kepada pelanggan agar terlibat dalam suatu program (customer involvement) serta memelihara loyalitas mereka. Event pemasaran biasanya melibatkan beragam pihak yang menangani menejemen merek, iklan, promosi, website, PR atau publisitas, bahkan pelayanan pelanggan dan penjualan karena kesuksesannya bergantung dari kerjasama multidisiplin profesi serumpun itu.

Kelima, menciptakan momentum pemasaran. Pemanfaatan momentum untuk pemasaran itu menjadi inti. Seasional marketing adalah pemasaran yang berbasis momentum atau memanfaatkan musim, baik berdasarkan waktu maupun peristiwa (event). Pemasaran musiman ini memanfaatkan momentum untuk meraih tujuan pemasaran sehingga identik dengan istilah pemasaran berbasis momentum (momentum marketing).

Keenam, komunikasi pemasaran berbasis ANP. Banyak metode atau teknik evaluasi untuk pengukuran efektivitas dan efisiensi iklan dan promosi, PR, hingga interative marketing sebagai komponen komunikasi pemasaran terkini. Salah satunya Marketing Communication Metrics (MCM), metode pengukuran dan evaluasi kinerja komunikasi pemasaran dengan pendekatan kuantitatif atau matematis sehingga pantas apabila dijuluki dengan istilah matematika komunikasi pemasaran.

Bab terakhir yaitu bab kelima mengulas mengenai Komunikasi Pemasaran Citra Industri dan Bangsa, dalam bab ini terdapat 8 sub bab, sebagai berikut :

Pertama, memasarkan reputasi BUMN. Semangat baru go retail/consumer itu terlihat dari sejumlah produk atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen massal, selain untuk industry dan korporasi.

Kedua, orchestra komunikasi pemasaran pariwisata. Sejumlah Negara memiliki citra tersendiri, dan memang harus memiliki sebuah citra sendiri. Hal ini belum dimiliki oleh Negara Indonesia. Terdapat beberapa factor kenapa hal ini bisa terjadi, diantaranya pemerintah kurang mengambil peran dalam menetapkan visi strategis dan kebijakan yang jernih, citra Indonesia yang kian buruk dimata masyarakat Negara lain, dan sebagainya.

Ketiga, memasarkan revolusi biru. Mengulas pemasaran spiritual (spiritual marketing), berupa model 3R (rasa, rasio, roh) atau 4N (naluri, nalar, nurani, niat). Intinya adalah pemasaran yang bertumpu pada suara hati nurani (roh) dihubungkan dengan niat sebagai benang spiritual antara makhluk dan Sang Khalik, bukan sekedar bersandarkan naluri (rasa) dan nalar (rasio). Pemasaran berbasis nilai (value marketing) mencakup tiga lapis : eksplorasi nilai (memahami nilai tambah yang dibutuhkan pelanggan, pemegang saham dan stakeholders lain), penciptaan nilai (keunikan nilai tambah yang ditawarkan), dan penebaran nilai (cara mentransfer nilai tambah tersebut).

Keempat, memasarkan momentum spiritual. Banyak pelaku bisnis yang mendasarkan program pemasaran mereka berbasis momentum. Sedikitnya ada empat elemen yang menunjang sukses hal tersebut yaitu lintasan waktu, konteks atau peristiwa, kuantitas, dan prestasi.

Kelima, upaya memasarkan citra bangsa. Salah satu yang menonjol adalah upaya untuk memulihkan citra bangsa (country image recovery), baik melalui lawatan pemimpin Negara, iklan di media massa, dan promosi pariwisata atau investasi untuk mengundang wisatawan atau investor. Demikian itulah cara memasarkan citra bangsa (country image marketing), mirip dengan memasarkan citra produk atau perusahaan.

Keenam, memasarkan reputasi Bank Syariah. Memasarkan reputasi Bank Syariah dapat dimulai dari karyawan dan pemimpin (personal branding) melalui budaya perusahaan yang mencerminkan nilai-nilai syariah yang universal. Kini, semakin pentingg untuk menempatkan karyawan sebagai titik sentral karena merekalah sebenarnya Duta Bank Syariah yang sejati. Aksi untuk memasarkan reputasi Bank Syariah melalui koordinasi dan sinkronisasi dengan berbagai sector terkait : 1. Satu komando/ dirijen kampanye; 2. Mengusung sebuah orchestra kampanye bersama; 3. Sinkronisasi kampanye industry, korporat, dan produk; 4. Revitalisasi budaya perusahaan; 5. Program strategis duta Bank Syariah (DBS); 6. Program aksi public; 7. Program berbasis komunitas; 8. Program virtual/interaktif.

Ketujuh, memulihkan citra bangsa. Dalam konteks pemasaran dan kehumasan (PR), langkah awal untuk membangun kembali insan yang berkarakter (akhlak) mulia itu adalah upaya untuk mereposisi wajah Indonesia (rebranding) atau memulihkan citra bangsa (country image recovery). Pemulihan citra bangsa dalam kaitan rebranding itu perlu didukung oleh empat lapis/pilar merek (brand) yang saling memperkuat dari personal, produk, perusahaan atau institusi, hingga industry. Pertama, membangun personal branding insan Indonesia yang berkarakter mulia. Kedua, memperkuat product branding melalui pemupukan merek asli Indonesia agar menjadi merek global dan membawa nama baik bangsa. Ketiga, mendorong corporate branding perusahaan unggulan yang terbukti memiliki kontribusi di level domestic atau international perlu didukung penuh oleh pemerintah. Keempat, memperkokoh industrial branding dengan memilih sector industry andalan sebagai ikon Indonesia.

Kedelapan, pemasaran politik lewat media center, yaitu contohnya peran insan PR yang mengelola Media Center KPU (Komisi Pemilihan Umum) 2004 dan Media Center PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) Aceh 2006.

Kasus MPR

C

ontoh lain untuk kasus Marketing Public Relation adalah Perusahaan Penerbangan “MERPATI”. Perusahaan Penerbangan yang pernah beroperasi ini kemudian vacuum setelah diklaim bangkrut beberapa tahun yang lalu. Hal ini menjadikan citra “MERPATI” anjlok di mata masyarakat. Namun dengan berbagai strategi dan proses yang ditempuh oleh pihak “MERPATI” akhirnya perusahaan tersebut kembali dapat beroperasi sampai sekarang.

Kesan & Hal Menarik

P

ada awalnya terjadi kebingungan yang sangat jelas saya rasakan ketika mendapat tugas untuk membaca khatam satu buku, merangkum dan menggoreskan kesan tentang isi dari buku tersebut. Mulai dari kebingungan harus mencari dimana buku tersebut bisa saya dapatkan, karena hampir seluruh Gramedia di daerah tempat saya tinggal dan sekitarnya saya datangi namun hasilnya nihil. Kemudian bingung bagaimana mulai mengkhatamkan buku tersebut sampai saat membaca bagian-bagian awal saya masih merasakan kebingungan, namun setelah lembar demi lembar saya lewati ternyata rasa ketertarikan saya muncul begitu saja sampai akhir dari buku ini selesai kulewati. Terimakasih saya sampaikan kepada Bpk. Hifni Alifahmi yang telah menulis buku Marketing Communication Orchestra sehingga saya dapat belajar lebih mengenai iklan, promosi, marketing public relation dan keajaiban didalamnya. Terimakasih juga kepada Ibu Heni yang telah memberikan tugas dengan referensi yang ‘luar biasa’ ini.

Banyak sekali hal menarik yang tergores dalam buku ini bagi saya. Tetapi yang jelas saya sangat senang bisa mengetahui sederetan pelajaran mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan oleh para pemasar dan komunikator luar biasa yang telah sudi berbagi pengetahuan atau kepiawaian dan sebagian rahasia kisahnya dalam buku ini. Terimakasih

2 responses to “PUBLIC RELATION KONTEMPORER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s